RADAR MAJAPAHIT - Kisah tentang hiburan rakyat ternyata bukan perkara baru. Pada zaman Majapahit, hiburan dan kesenian menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Raja Hayam Wuruk (1351-1389 M) bahkan disebut memiliki perhatian terhadap kegembiraan rakyatnya. Hal itu terekam dalam Kakawin Nāgarakṛtāgama karya Mpu Prapanca yang ditulis pada 1365 M.
Dalam buku Kakawin Desa Warnnana uthawi Nagarakrtagama Masa Keemasan Majapahit (2009), I Ketut Riana menerjemahkan karya Mpu Prapanca tersebut. Gambaran mengenai upaya raja menggembirakan rakyat antara lain terdapat dalam Wirama 66.
"Sāsing kāryya mawēha tuṣṭa rikanang parajana winangun narēṡwara huwus,…"
Kalimat tersebut diterjemahkan sebagai: segala kegiatan untuk menggembirakan rakyat telah diselenggarakan oleh Baginda Raja (hlm. 328).
Tidak ada pidato kenegaraan seperti yang dikenal sekarang. Namun, cara raja menyapa dan menggembirakan rakyat dilakukan melalui berbagai kegiatan, salah satunya festival kesenian.
"Setiap tahun, perayaan kesenian digelar di lingkungan kerajaan. Saat itu, para raja vasal atau penguasa daerah datang ke ibu kota Majapahit," kata Fendy Suhartanto, pemerhati sejarah Mojokerto. Ia mengatakan, pesta dan pertunjukan kesenian pun menjadi bagian dari perayaan kerajaan. Pementasan kesenian juga dilakukan dalam berbagai kesempatan, seperti perayaan panen dan peresmian bangunan suci.
Menurut P. E. J. Ferdinandus dalam buku Alat Musik Jawa Kuno (2003), pementasan kesenian pada masa Jawa Kuno selalu berkaitan dengan penggunaan alat musik (hlm. 388).
Bentuk pertunjukannya pun beragam. Ada perang tanding, gīta atau menyanyi, manretta atau menari, hingga mabanyol atau melawak.
Seni pertunjukan dan seni musik memang dapat dibedakan. Namun, keduanya tidak dapat dilepaskan begitu saja. Sebuah pertunjukan kesenian pada masa itu lazimnya membutuhkan iringan musik, meskipun jenis alat musiknya tidak selalu disebutkan dalam sumber tertulis.
"Dalam Ferdinandus (2003: 388) menyebut alat musik sebagai salah satu komponen penting dalam pementasan kesenian, terutama dalam upacara dan perayaan," urai Fendy.
Kesenian sendiri telah tumbuh seiring perkembangan peradaban manusia. Pada awalnya, seni banyak berkaitan dengan hal-hal sakral dan kebutuhan spiritual. Seiring perkembangan masyarakat, seni kemudian berkembang pula menjadi hiburan yang dapat dinikmati lebih luas, tidak hanya oleh kalangan bangsawan. "Rakyat pun turut menjadi bagian dari kegembiraan tersebut," sambung penulis buku Mojokerto 1838-1942: Penataan Wilayah Kabupaten di Bawah Kuasa Pemerintah Hindia Belanda ini.
Gambaran tentang kegembiraan rakyat setelah menikmati pertunjukan kesenian dapat ditemukan dalam Nāgarakṛtāgama. Masyarakat digambarkan bersuka cita ketika menyaksikan arak-arakan Raja Hayam Wuruk bersama keluarga dan pejabat istana.
Dalam Wirama 84 disebutkan: "Budhhinya dharadharan kapwa suka bangun wāhu manonton…" I Ketut Riana (2009: 406) menerjemahkannya sebagai: semua hatinya bersuka ria seperti buat pertama menonton.
Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa kegembiraan rakyat bukan sekadar pelengkap dalam kehidupan kerajaan. Hiburan menjadi bagian dari relasi antara raja dan rakyat.
Bagi Raja Hayam Wuruk, menggembirakan rakyat merupakan bagian dari kewajiban seorang penguasa. "Kerajaan tidak akan berarti tanpa rakyat. Karena itu, perayaan dan pertunjukan kesenian menjadi salah satu cara menghadirkan kegembiraan bersama," pungkas Fendy.
Jauh sebelum istilah hiburan rakyat dikenal seperti sekarang, masyarakat Majapahit rupanya sudah mengenal cara sederhana untuk bersuka cita: berkumpul, menonton pertunjukan, menikmati musik, dan merayakan kehidupan bersama. (fen/ram)
Editor : Rizal Amrulloh