
RADAR MAJAPAHIT - Gol A Gong, penulis buku Balada si Roy, menyapa Mojokerto, Rabu (12/8) malam. Sastrawan Nasional itu menghadiri diskusi bertajuk Ekosistem dan Kemandirian Komunitas Seni di Omah Brongkol, kedai kopi dan literasi di Dusun Brongkol, Desa Banjaragung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.
Puluhan orang dari beragam komunitas dan latar belakang, mulai pelajar hingga pegawai negeri sipil, mengikuti diskusi tersebut. Gol A Gong didapuk sebagai narasumber untuk berbagi pengalaman dalam membangun dan menghidupi komunitas seni.
Mengenakan topi fedora dengan rambut gondrong, pria bernama asli Heri Hendrayana Harris itu tampil santai. Duduk lesehan beralaskan karpet, dia menyampaikan materi dengan suara lantang dan jelas.
Dalam diskusi, Gol A Gong menekankan pentingnya pemetaan bagi penulis sebelum menghasilkan karya. Menurutnya, penulis novel perlu memadukan kisah personal dengan unsur yang memiliki daya tarik dan kedekatan dengan pembaca.
’’Nah, kalau menulis novel harus ada unsur empat. Dari Sabang sampai Merauke saya menganalisis, banyak penulis pemula mengatakan penulis novel sebetulnya menulis autobiografi dia, kisah hidup dia. Yang kalau kisah hidup dipadukan empat unsur, jadi dasar, penerbit pasti mau,’’ ujar penulis buku Ledakkan Dirimu sebelum Kepalamu Meledak ini.
Dia kemudian mencontohkan novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Menurutnya, selain mengangkat kisah cinta, novel tersebut memiliki unsur Muhammadiyah yang membuat pembaca dari kalangan Muhammadiyah merasa memiliki kedekatan dengan cerita.
’’Selain cinta terlarang, itu ada Muhammadiyah-nya. Sehingga orang Muhammadiyah tergerak untuk beli. Lalu epigon Ahmad Fuadi dengan Negeri 5 Menara, itu ada Gontornya, jadi orang Gontor itu baca,’’ tutur pria kelahiran Purwakarta, Jawa Barat itu.
Gol A Gong juga menceritakan proses kreatif ketika menulis Balada si Roy. Dia sengaja membuat karakter Roy sebagai antitesis dari tokoh Boy dalam Catatan si Boy yang populer pada era 1980-an.
Menurut dia, Roy digambarkan sebagai remaja Indonesia yang gelisah dan berani melawan kemapanan. Karakter tersebut menjadi pembeda sekaligus identitas yang kuat dalam karyanya.


