Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Semiotika Merah Putih dari Majapahit hingga Indonesia Modern

S
Penulis: Sofan Kurniawan❯
SANG SAKA: Lukisan Candi Brahu dan Merah Putih karya Yusron seniman asal Jombang.
SANG SAKA: Lukisan Candi Brahu dan Merah Putih karya Yusron seniman asal Jombang.

Advertisement

RADAR MAJAPAHIT - Memasuki bulan Agustus ini, kita melihat bendera berkibar di mana- mana. Warga memasang bendera dan umbul-umbul bernuansa merah putih untuk merayakan bulan kemerdekaan.

Bendera merah putih tak sekadar simbol yang lahir pada tahun 1945. Jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI dikumandangkan, kombinasi warna merah dan putih telah memiliki kedudukan sakral dalam peradaban Nusantara. Akar historis paling kuat dari panji ini runtut hingga masa kejayaan Kerajaan Majapahit pada abad ke-13.

Sebelum menjadi lambang negara, merah dan putih melambangkan dualitas alam yang saling melengkapi dalam filosofi Jawa masa lalu. Merah berarti getih, melambangkan darah, unsur ibu, bumi, dan keberanian. Sementara putih yaitu getah, melambangkan sperma, unsur ayah, langit, dan kesucian. Komplementasi warna ini dianggap sebagai lambang kehidupan yang harmonis.

Advertisement

Panji Gula Kelapa di Masa Majapahit

Pada masa keemasan Kerajaan Majapahit (1293–1527 M), kombinasi merah dan putih digunakan sebagai lambang kebesaran kerajaan. Panji ini dikenal dengan nama "Sang Saka Gula Kelapa" atau "Sang Merah Putih".

Istilah Gula Kelapa merujuk pada gula merah (dari pohon kelapa/aren) yang berwarna kemerahan dan daging buah kelapa yang berwarna putih bersih.

Advertisement

Dalam kitab Negarakertagama karya Prapanca, disebutkan bahwa kain berwarna merah dan putih digunakan dalam upacara-upacara keagamaan dan kebesaran raja. Bendera ini dipasang pada kereta Raja Hayam Wuruk saat melakukan perjalanan keliling wilayah kerajaan.

Selain sebagai simbol kerajaan, garis-garis merah dan putih juga digunakan sebagai bendera armada laut Majapahit di bawah komando Mahapatih Gajah Mada. Bendera ini terdiri dari beberapa garis horizontal merah dan putih selang-seling (biasanya berjumlah 9 atau lima garis merah dan empat garis putih). Desain bergaris ini berfungsi sebagai penanda visual yang jelas di laut agar kapal kawan dapat mengenali satu sama lain dari kejauhan saat memperluas pengaruh di seantero Nusantara.

Estafet Perjuangan Menuju Kemerdekaan

Setelah runtuhnya Majapahit, tradisi warna merah putih tidak hilang. Warna-warna ini terus diadopsi oleh berbagai pejuang Nusantara, seperti Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825–1830).

Advertisement

Artikel Terkait

Menggali Ilmu dari Pesona Candi Bajang Ratu

Menggali Ilmu dari Pesona Candi Bajang Ratu

Pesona Candi atau Gapura Bajang Ratu di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto masih menjadi perhatian kalangan wisatawan.

Kendi Era Majapahit Jadi Perlambang Sumber Kehidupan

Kendi Era Majapahit Jadi Perlambang Sumber Kehidupan

Kendi di era Kerajaan Majapahit lebih dari sekadar wadah air minum, kendi menjadi bagian yang tak terpisah dari nilai spiritualitas

Teknologi Kendi Era Majapahit, Menjaga Suhu Air Tetap Sejuk secara Alami

Teknologi Kendi Era Majapahit, Menjaga Suhu Air Tetap Sejuk secara Alami

Masyarakat Kerajaan Majapahit menyimpan air minum di dalam kendi. Terbuat dari tanah liat, wadah itu mampu menjaga suhu air tetap sejuk alam

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer