Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Umar Kayam Sang "Juru Potret" Kebudayaan

S
Penulis: Sofan Kurniawan❯
SANG BUDAYAWAN: Umar Kayam tokoh kebudayaan Indonesia.
SANG BUDAYAWAN: Umar Kayam tokoh kebudayaan Indonesia.

Advertisement

RADAR MAJAPAHIT - Ia adalah priayi yang emoh menjadi menak, seorang intelektual yang memilih duduk di warung kopi ketimbang rebutan kursi. Umar Kayam, akrab disapa Mas Kayam, bukan sekadar nama dalam katalog sastra Indonesia. Ia adalah sebentuk radar kebudayaan.

Melalui esai, cerpen, dan novelnya, ia memotret transisi manusia Jawa yang limbung di persimpangan zaman, kaki kiri tertanam di lumpur feodalisme, kaki kanan melangkah gagah ke lantai beton modernitas.

 

Advertisement

Priayi Sastra yang Bertubuh Rakyat

Umar Kayam, Sastrawan kelahiran Ngawi, 1932 ini tumbuh dari kultur Jawa yang kental. Namun, ia tidak pernah memandang tradisi sebagai barang keramat yang tabu disentuh. Baginya, kebudayaan itu hidup, bergerak, dan sesekali perlu ditertawakan.

Cendekiawan, sosiolog bergelar doktor dari Cornell University tersebut dikenal melalui esai-esainya, terutama yang bertebaran di kolom-kolom media massa era 1980-an hingga 1990-an, tidak pernah menggunakan bahasa langit yang berkerut dahi. Kayam memilih jalur santun namun menggigit, menguliti kepalsuan borjuasi baru, birokrasi yang gemuk, dan hilangnya srawung (ruang sosial) akibat gempuran modernitas, televisi serta pusat perbelanjaan menjadi bahan kajian kebudayaan kontemporer pada awal 90an. Kayam bertindak sebagai "juru potret" dinamika kebudayaan dan detail detail sosiologis disajikan dalam karya karyanya.

Advertisement

 

Menghidupkan Sastra Lewat "Mulut"

Kekuatan utama Kayam, baik dalam fiksi maupun esai ulasannya, terletak pada kemampuannya menangkap tradisi lisan (orality). Ketika membaca menelaah esai atau cerpennya seperti Bawuk atau Sri Sumarah, pembaca tidak merasa menapaki teks yang. Pembaca dibawa seperti sedang mendengarkan seorang tua bercerita di emperan rumah, lengkap dengan sajian teh panas dan pisang goreng.

 

Advertisement

Artikel Terkait

Di Bulan Merdeka, Pramoedya Layak Menjadi Pahlawan Sastra Indonesia

Di Bulan Merdeka, Pramoedya Layak Menjadi Pahlawan Sastra Indonesia

Jika kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka Pramoedya adalah sang pembebas dalam sastra.

Balada si Roy Sapa Mojokerto

Balada si Roy Sapa Mojokerto

Gol A Gong, penulis buku Balada si Roy, menyapa Mojokerto, Rabu (12/8) malam

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer