Oleh : Sofanka
Haji Mohammad Misbah, atau yang lebih dikenal sebagai Haji Misbah, adalah tokoh Islam kiri asal Surakarta yang berdiri tegak di persimpangan dua ideologi besar pada awal abad ke-20, Islam dan Komunisme.
Di tengah ketertindasan kolonialisme Hindia Belanda, ia menolak diam atas penderitaan yang dialami bangsanya sendiri. Melalui gerakan "Islam-Komunis" (Iskom), Misbah mengobarkan nilai-nilai tauhid dengan semangat perlawanan kelas untuk membela kaum miskin. Bagi Misbah, beragama berarti bergerak melawan penindasan. Islam bukanlah sekadar ritual peribadatan, lebih dari itu, Islam adalah gerakan nyata untuk mewujudkan keadilan bagi sesama.
Ketika menyaksikan eksploitasi ekonomi yang dilakukan oleh pabrik-pabrik gula milik Belanda dan para kapitalis bumiputra atau "londo ireng" yang menindas bangsanya sendiri, darahnya mendidih. Ia meyakini bahwa Islam tidak mengajarkan penindasan. Dari sinilah Misbah menemukan formulasi ideologi antara kritik Marxisme terhadap kapitalisme dan ajaran Islam yang menentang kezaliman. Melalui surat kabar yang dipimpinnya, yaitu Medan Moeslimin dan Islam Bergerak, ia menggelorakan gagasan bahwa seorang Muslim yang sejati wajib melawan kapitalisme dan imperialisme, karena keduanya adalah akar kemiskinan yang mencekik rakyat kecil.
Perjuangan Haji Misbah berfokus pada pemberdayaan dan pembelaan orang-orang kecil yang kehilangan hak atas tanah dan tenaga kerja mereka. Ia melakukan "tawaf sosial" dengan berkeliling mengitari Surakarta dan sekitarnya untuk mengorganisir para petani, buruh paku, dan pekerja kasar. Misbah menggerakkan mereka untuk melakukan "lempar jumrah" berupa kritik, aksi massa, hingga mogok kerja demi menuntut upah yang layak serta penghapusan pajak kolonial yang memberatkan.
Misbah tidak hanya berteori, ia benar-benar bekerja nyata di lapangan dengan berpijak pada jalan Islam dan paham kiri.Gerakan tersebut dilakukan untuk mewujudkan kedaulatan rakyat atas hasil bumi mereka sendiri sekaligus meruntuhkan struktur feodal-kolonial yang memiskinkan.
Pergerakan ini lahir dari rasa cinta yang mendalam terhadap tanah air dan bangsanya. Haji Misbah menginginkan sebuah negeri yang merdeka, di mana tidak ada lagi eksploitasi manusia atas manusia.
Baginya, membela tanah air adalah bagian dari iman, dan melawan penjajah Belanda adalah jalan suci fii sabilillah.Namun, perlawanan dan ketegasannya dalam membela rakyat kecil menjadi ancaman yang mematikan bagi pemerintah kolonial.
Pemerintah Hindia Belanda yang mulai kewalahan menghadapi pergerakan Haji Misbah akhirnya menangkapnya atas tuduhan aksi sabotase jalur kereta api dan serangkaian aksi massa lainnya.Pada tahun 1924, ia dibuang ke Manokwari, Papua, sebuah wilayah yang kala itu terisolasi dan menjadi penjara alam yang jauh dari tanah kelahirannya, Surakarta.
Di tanah pengasingan yang sarat dengan keterbatasan dan penyakit endemik tersebut, semangatnya tidak pernah padam meski fisiknya perlahan digerogoti oleh waktu dan alam yang keras.Haji Misbah terus memegang teguh keyakinannya hingga mengembuskan napas terakhir di Papua pada tahun 1926. Ia wafat dalam sunyi pengasingan, jauh dari gemuruh pergerakan di Jawa, setelah mengorbankan seluruh hidupnya demi sebuah cita-cita luhur: rakyat yang merdeka dan kemerdekaan yang sesungguhnya
Editor : Sofan KurniawanSumber : radar majapahit