Di Bulan Merdeka, Pramoedya Layak Menjadi Pahlawan Sastra Indonesia

Sofan Kurniawan • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 21:27 WIB
TOKOH: Ilustrasi Mozaik Potret Pramoedya Ananta Toer.
TOKOH: Ilustrasi Mozaik Potret Pramoedya Ananta Toer.

Oleh: Sofanka

Merdeka! Pekik itu menggema setiap Agustus tiba. Jalanan bersolek dengan umbul-umbul dan penjor aneka warna, podium-podium kekuasaan sibuk memperpanjang daftar nama pahlawan baru. Namun, di tengah riuh upacara yang kerap kali hanya seremoni, ada ruang sunyi dalam ingatan kita, yang menolak lupa pada sosok renta bersorot mata tajam, kalimatnya lugas menghujamkan kata kata.

Pramoedya Ananta Toer. Jika kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka Pramoedya adalah sang pembebas dalam sastra. Ironisnya separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara,meski karya karyanya menumbuhkan cinta pada bangsa dan negara, tetapi Pram disiksa dalam pasungan besi penguasa.

Pramoedya bukan sastrawan biasa, bahkan tanpa mesin ketik ,ia tetap menulis tanpa pena,ia kumpulkan cerita sastra dalam ingatanya, lalu dalam pengasinganya di Pulau Buru ia ceritakan karya karyanya ke sesama tahanan disana. Melalui tutur, kemudian secara sembunyi sembunyi ia catatkan di alat alakadranya, jadilah karya sastra luar biasa tetralogi Pulau Buru, yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.

Ketika tubuhnya disekap di Nusakambangan hingga diasingkan ke tanah gersang Buru tanpa pengadilan, Pramoedya membuktikan bahwa pikiran tidak bisa dirantai. Genta perlawanan Minke, kegigihan Nyai Ontosoroh, dan heroisme yang ia goreskan justru lahir dari bilik-bilik penindasan.

Kontribusinya terhadap dunia literasi Indonesia tidak tertandingi. Melalui tangannya, bahasa Indonesia naik kelas dari sekadar bahasa persatuan menjadi bahasa estetika perlawanan yang diakui dunia. Ia berkali-kali masuk nominasi Hadiah Nobel Sastra, membawa nama Indonesia ke puncak tertinggi panggung dunia. Tetapi paspornya sendiri dibatasi oleh negaranya.

Agus Lolong/AFP.

Penulis Pramoedya Ananta Toer (kanan) memberikan hadiah buku kepada Presiden Abdurrahman Wahid dalam sebuah pertemuan di Jakarta, 2 Mei 2000.
SASTRAWAN: Penulis Pramoedya Ananta Toer (kanan) memberikan hadiah buku kepada Presiden Abdurrahman Wahid dalam sebuah pertemuan di Jakarta, 2 Mei 2000. (Foto:Agus Lolong/AFP)

Semestinya, Menjadikan ia sebagai pahlawan sastra adalah bentuk penebusan dosa sejarah bangsa ini terhadap dirinya. Ini adalah momentum untuk menegaskan bahwa pahlawan tidak hanya mereka yang memegang bedil di parit pertempuran, tetapi juga mereka yang merawat akal sehat bangsa dengan tinta, mengorbankan kebebasan pribadinya demi tegaknya kebenaran sejarah.

Kini, di bawah kibaran bendera merah putih yang merdeka, buku-buku Pramoedya tidak lagi dibakar, melainkan dibaca oleh generasi muda yang haus akan kemerdekaan yang sebenarnya. Pramoedya Ananta Toer telah menyelesaikan tugasnya. Ia telah menulis, ia telah melawan, sebaik baiknya, sehormat hormatnya. (*)

Editor : Rizal Amrulloh
sastrawan pahlawan nasional