Umar Kayam Sang "Juru Potret" Kebudayaan

Sofan Kurniawan • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 10:40 WIB
SANG BUDAYAWAN: Umar Kayam tokoh kebudayaan Indonesia.
SANG BUDAYAWAN: Umar Kayam tokoh kebudayaan Indonesia.

RADAR MAJAPAHIT - Ia adalah priayi yang emoh menjadi menak, seorang intelektual yang memilih duduk di warung kopi ketimbang rebutan kursi. Umar Kayam, akrab disapa Mas Kayam, bukan sekadar nama dalam katalog sastra Indonesia. Ia adalah sebentuk radar kebudayaan.

Melalui esai, cerpen, dan novelnya, ia memotret transisi manusia Jawa yang limbung di persimpangan zaman, kaki kiri tertanam di lumpur feodalisme, kaki kanan melangkah gagah ke lantai beton modernitas.

 

Priayi Sastra yang Bertubuh Rakyat

Umar Kayam, Sastrawan kelahiran Ngawi, 1932 ini tumbuh dari kultur Jawa yang kental. Namun, ia tidak pernah memandang tradisi sebagai barang keramat yang tabu disentuh. Baginya, kebudayaan itu hidup, bergerak, dan sesekali perlu ditertawakan.

Cendekiawan, sosiolog bergelar doktor dari Cornell University tersebut dikenal melalui esai-esainya, terutama yang bertebaran di kolom-kolom media massa era 1980-an hingga 1990-an, tidak pernah menggunakan bahasa langit yang berkerut dahi. Kayam memilih jalur santun namun menggigit, menguliti kepalsuan borjuasi baru, birokrasi yang gemuk, dan hilangnya srawung (ruang sosial) akibat gempuran modernitas, televisi serta pusat perbelanjaan menjadi bahan kajian kebudayaan kontemporer pada awal 90an. Kayam bertindak sebagai "juru potret" dinamika kebudayaan dan detail detail sosiologis disajikan dalam karya karyanya.

 

Menghidupkan Sastra Lewat "Mulut"

Kekuatan utama Kayam, baik dalam fiksi maupun esai ulasannya, terletak pada kemampuannya menangkap tradisi lisan (orality). Ketika membaca menelaah esai atau cerpennya seperti Bawuk atau Sri Sumarah, pembaca tidak merasa menapaki teks yang. Pembaca dibawa seperti sedang mendengarkan seorang tua bercerita di emperan rumah, lengkap dengan sajian teh panas dan pisang goreng.

 

Kayam sangat mahir menggunakan teknik rasan-rasan (bergunjing secara kultural) untuk menyampaikan kritik sosial yang tajam. Kritik itu tidak disampaikan dengan kepalan tangan ke udara, melainkan dengan senyum simpul yang membuat objek kritiknya tersipu sendiri, bahkan tidak marah dan serasa bahagia dikritik olah Kayam.

 

Warisan Kebudayaan Umar Kayam

Umar Kayam telah tiada pada tahun 2002, namun ulasan-ulasan kulturalnya masih terasa segar hari ini. Di tengah lanskap digital di mana orang-orang berteriak di media sosial dengan kalimat-kalimat pendek yang marah, tulisan Kayam adalah sebuah oasis. Ia mengingatkan kita bahwa mengkritik bangsa tidak harus dengan maki-maki, melainkan dengan memahami akar antropologis mengapa bangsa ini menjadi "sakit."

Ia adalah manusia serbabisa, birokrat seni (mantan Dirjen Radio, Televisi, dan Film), akademisi, dosen diberbagai perguruan tinggi, IU, UGM,STF Driyakara dan aktor, ia pernah berperan sebagai Bung Karno dalam film Pengkhianatan G30S/PKI, kolumnis kawakan. Namun di atas semua gelar itu, Umar Kayam adalah seorang penutur cerita yang tiada dua. Ia berhasil memotret manusia Indonesia dengan segala keluhuran budi sekaligus kekonyolan karakternya. (fan/ram)


Editor : Rizal Amrulloh
budayawan sastrawan cendekiawan