Ada satu hal yang jarang dibicarakan ketika orang membahas Gajah Mada: barangkali ia pernah jatuh cinta.
Sejarah memang kejam kepada urusan beginian. Kita mengenalnya sebagai Mahapatih yang mengucapkan Sumpah Palapa. Lelaki yang ambisinya bukan main-main: menyatukan Nusantara. Namanya dibicarakan dalam prasasti, kitab, dan pelajaran sejarah. Patungnya berdiri gagah dengan sorot mata seperti orang yang sedang memikirkan strategi geopolitik.
Tapi sejarah hampir tidak pernah bertanya:
"Gajah Mada, kamu kalau malam Minggu biasanya ke mana?"
Padahal, sehebat apa pun seorang mahapatih, ia tetap manusia.
Ia mungkin pernah menunggu seseorang.
Mungkin pernah menyimpan surat.
Mungkin pernah berdiri di sudut halaman istana, pura-pura sedang mengamati keadaan, padahal sebenarnya sedang menunggu seorang yang membuat dadanya berdesir.
Cinta yang kalah oleh Sumpah Palapa
Ketika orang lain berkata, "Aku ingin bersamamu selamanya," Gajah Mada mungkin menjawab, "Nusantara harus bersatu dahulu."
Romantis?
Tidak juga.
Tapi sangat Majapahit.
Lalu siapa perempuan itu?
Nah, di sinilah sejarah mulai pelit.
Tidak ada sumber kuat yang bisa memastikan siapa perempuan yang menjadi kekasih Gajah Mada. Nama pasangan, kisah pernikahan, bahkan detail kehidupan pribadinya tidak terdokumentasi dengan jelas seperti kisah politiknya.
Maka jangan buru-buru percaya kalau ada cerita yang menyebut nama seorang perempuan tertentu sebagai "cinta sejati Gajah Mada".
Bisa jadi itu hanya legenda.
Barangkali ia mencintai seseorang yang tak bisa dimilikinya
Mari kita bayangkan sebuah kemungkinan.
Bukan sebagai fakta sejarah.
Ada seorang perempuan yang beberapa kali ditemui Gajah Mada di lingkungan istana.
Ia bukan putri kerajaan.
Mereka mungkin berbicara tentang hal-hal sederhana.
Tentang hujan.
Tentang pasar.
Tentang makanan.
Tentang kehidupan di luar tembok istana.
Dan mungkin, untuk beberapa saat, Gajah Mada lupa bahwa ia adalah Gajah Mada.
Ia hanya seorang lelaki yang sedang duduk berhadapan dengan seseorang yang disukainya. Namun ia tak kuasa mengucapkanya.
Mungkin perempuan itu menunggunya
Hari berganti.
Bulan berganti.
Perang dan diplomasi datang silih berganti.
Sementara seseorang mungkin masih menunggu.
Menunggu seorang lelaki yang terlalu sibuk menyatukan Nusantara tetapi gagal menyatukan dua hati.
Dan kalau cerita semacam ini benar-benar pernah terjadi, barangkali perempuan itu akhirnya memahami, ia sedang bersaing dengan Nusantara. Dan itu pertandingan yang tidak mungkin dimenangkan.
Sejarah memang tidak romantis
Kita sering mengira tokoh besar hidupnya seperti film. Padahal sejarah biasanya hanya menyisakan bagian yang dianggap penting. Hanya nama, jabatan, prestasi, namun sisanya hilang.
Termasuk mungkin nama seseorang yang pernah membuat Gajah Mada geliasah karena cinta, dirundung asmara. (*Sofan Kurnaiwan)
Editor : Sofan Kurniawan