
Sejarah memang kejam kepada urusan beginian. Kita mengenalnya sebagai Mahapatih yang mengucapkan Sumpah Palapa. Lelaki yang ambisinya bukan main-main: menyatukan Nusantara. Namanya dibicarakan dalam prasasti, kitab, dan pelajaran sejarah. Patungnya berdiri gagah dengan sorot mata seperti orang yang sedang memikirkan strategi geopolitik.
Tapi sejarah hampir tidak pernah bertanya:
"Gajah Mada, kamu kalau malam Minggu biasanya ke mana?"
Padahal, sehebat apa pun seorang mahapatih, ia tetap manusia.
Ia mungkin pernah menunggu seseorang.
Mungkin pernah menyimpan surat.
Mungkin pernah berdiri di sudut halaman istana, pura-pura sedang mengamati keadaan, padahal sebenarnya sedang menunggu seorang yang membuat dadanya berdesir.
Cinta yang kalah oleh Sumpah Palapa
Ketika orang lain berkata, "Aku ingin bersamamu selamanya," Gajah Mada mungkin menjawab, "Nusantara harus bersatu dahulu."
Romantis?
Tidak juga.
Tapi sangat Majapahit.
Lalu siapa perempuan itu?
Nah, di sinilah sejarah mulai pelit.
Tidak ada sumber kuat yang bisa memastikan siapa perempuan yang menjadi kekasih Gajah Mada. Nama pasangan, kisah pernikahan, bahkan detail kehidupan pribadinya tidak terdokumentasi dengan jelas seperti kisah politiknya.
Maka jangan buru-buru percaya kalau ada cerita yang menyebut nama seorang perempuan tertentu sebagai "cinta sejati Gajah Mada".
Bisa jadi itu hanya legenda.
Barangkali ia mencintai seseorang yang tak bisa dimilikinya



