Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Siddhartha Gautama: Jalan Panjang Menuju Pencerahan

S
Penulis: Sofan Kurniawan❯
RUPANG BUDDHA: Foto Ilustrasi Fase perjalanan Sidharta Gautama dari kecil menuju dewasa (FOTO : Sofan Kurniawan)
RUPANG BUDDHA: Foto Ilustrasi Fase perjalanan Sidharta Gautama dari kecil menuju dewasa (FOTO : Sofan Kurniawan)

Advertisement

Oleh: Sofanka

Siddhartha Gautama lahir dalam kehidupan yang nyaris sempurna. Ia adalah putra Raja Suddhodana dari suku Sakya, yang hidup di kawasan Kapilavastu, di kaki Himalaya. Sebagai seorang bangsawan, Siddhartha dibesarkan dalam kemewahan dan dijauhkan dari segala kekurangan.

Namun kehidupan yang ia jalani itu tidak membuat batinnya benar-benar tenang.
Ketika keluar dari lingkungan istana, Siddhartha menyaksikan empat kenyataan yang mengubah arah hidupnya: seorang tua, orang sakit, orang mati, dan seorang pertapa. Ia mulai memahami bahwa usia, penyakit, dan kematian adalah kenyataan yang tak mungkin dihindari manusia.

Advertisement

Sementara pertapa menunjukkan kemungkinan lain: mencari jalan keluar dari penderitaan melalui kehidupan batin. Pada usia sekitar 29 tahun, Siddhartha meninggalkan istana, istri, dan putranya. Keputusan itu kemudian dikenal sebagai Great Renunciation atau pelepasan agung. Ia menanggalkan pakaian kebangsawanan dan memulai kehidupan sebagai seorang pertapa.

PENDERITAAN : Ilustrasi Sidharta Gautama menjalani laku spiritual dan mengalami penderitaan (FOTO: Sofan Kurniawan/ Jawa Pos Radar Mojokerto)
PENDERITAAN : Ilustrasi Sidharta Gautama menjalani laku spiritual dan mengalami penderitaan (FOTO: Sofan Kurniawan/ Jawa Pos Radar Mojokerto)

Siddhartha berguru kepada sejumlah guru spiritual. Ia mempelajari meditasi dan mencapai tingkat konsentrasi batin yang tinggi. Tetapi pengalaman itu belum menjawab pertanyaan mendasarnya: bagaimana manusia terbebas sepenuhnya dari penderitaan.

Advertisement

Ia kemudian menjalani tapa yang sangat keras bersama lima pertapa di Uruvela. Tubuhnya semakin kurus karena menahan lapar dan melakukan berbagai bentuk penyiksaan diri. Namun Siddhartha menyadari bahwa menyakiti tubuh bukanlah jalan menuju kebebasan batin.
Di titik itulah ia menemukan sebuah pemahaman penting: jalan menuju pencerahan tidak terletak pada kemewahan, tetapi juga bukan pada penyiksaan diri. Ia memilih jalan tengah.

Setelah menerima makanan dari seorang perempuan bernama Sujata, Siddhartha memulihkan tubuhnya. Lima pertapa yang bersamanya meninggalkannya karena menganggap ia telah menyerah pada kehidupan pertapaan. Siddhartha kemudian duduk bermeditasi di bawah pohon Bodhi di Uruvela, bertekad untuk tidak bangkit sebelum menemukan kebenaran.
Malam itu menjadi titik balik perjalanan panjangnya.

Dalam meditasi yang mendalam, Siddhartha menembus lapisan-lapisan pengalaman batin. Ia memahami rangkaian kelahiran dan kematian makhluk, hukum karma, serta akar penderitaan manusia. Ia melihat bahwa penderitaan berhubungan dengan keinginan dan kemelekatan, bahwa segala sesuatu yang muncul berada dalam perubahan, bahwa kebebasan dapat dicapai dengan memutus belenggu kemelekatan tersebut.

Menjelang fajar, ketika cahaya pagi mulai muncul, Siddhartha Gautama mencapai pencerahan sempurna. Ia tidak hanya menjadi seorang pertapa yang mencari kebenaran. Ia menjadi Buddha, yang berarti “Yang Tercerahkan” atau “Yang Terbangun”.

Pencerahan itu kemudian dirumuskan dalam ajaran tentang Empat Kebenaran Mulia: adanya penderitaan, sebab penderitaan, berakhirnya penderitaan, dan jalan menuju berakhirnya penderitaan. Jalan itu dikenal sebagai Jalan Mulia Berunsur Delapan, yang mencakup pandangan, niat, ucapan, tindakan, penghidupan, usaha, perhatian, dan konsentrasi yang benar.
Menariknya, perjalanan Siddhartha bukan kisah tentang seseorang yang menemukan kebenaran dengan mudah. Ia adalah perjalanan panjang melalui kemewahan, kegelisahan, pencarian, pertapaan, kegagalan, hingga akhirnya menemukan keseimbangan.

Advertisement

Artikel Terkait

Kementerian Kebudayaan Ajak Pelajar Ceritakan Kekayaan Indonesia Lewat Film

Kementerian Kebudayaan Ajak Pelajar Ceritakan Kekayaan Indonesia Lewat Film

Kemenbud) RI mendorong generasi muda untuk mengembangkan potensi. Kalangan pelajar diajak untuk membuat karya film.

Trowulan, Persinggahan Peziarah Lintas Agama dan Budaya

Trowulan, Persinggahan Peziarah Lintas Agama dan Budaya

Kawasan Trowulan tak hanya menawarkan jejak kejayaan Kerajaan Majapahit. Kawasan yang menyimpan beragam peninggalan sejarah

Nasirun dan Sketsa Megat Ruh: Ketika Seorang Pelukis Seolah Berpamitan

Nasirun dan Sketsa Megat Ruh: Ketika Seorang Pelukis Seolah Berpamitan

Hingga 40 hari kematianya, perbincangan tentang Nasirun tiada hentinya. Dua minggu sebelum wafat, Nasirun membuat sketsa kecil

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer