RADAR MAJAPAHIT – Kawasan Percandian Muara Jambi menjadi salah satu kawasan spiritual penting di Asia Tenggara. Berada di sepanjang aliran Sungai Batanghari, kawasan ini memiliki luas lebih dari 4.000 hektare dan menyimpan jejak panjang perkembangan kebudayaan, religi, serta kehidupan masyarakat di masa lampau.
Dilansir dari Mueum dan Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI, Muara Jambi berada dalam lingkungan perdesaan sejarah yang lekat dengan kebudayaan Melayu. Kehidupan masyarakatnya disangga empat pilar budaya Melayu, yakni umo atau kebun, ulan atau hutan, tali air yang merujuk pada sungai-sungai, serta umah atau kampung.
Keempat unsur tersebut memberikan warna terhadap kehidupan masyarakat, mulai dari adat, kegiatan ekonomi, ketahanan pangan, sistem sosial, permukiman, hingga kesenian.
Sungai Batanghari menjadi bagian penting dalam perkembangan kawasan Muara Jambi. Keberadaan sungai sebagai jalur kehidupan turut membentuk peradaban manusia masa lalu dan meninggalkan jejak yang masih dapat ditelusuri hingga kini.
Keberadaan sungai juga memungkinkan terbentuknya jalur maritim Asia. Jalur tersebut menjadi bagian dari perjalanan para biksu Buddha pada abad ke-5 hingga ke-9 yang melakukan perjalanan dari Cina menuju India dengan melintasi wilayah Sumatra.
"Biksu Buddha kemudian tinggal dan membangun pusat edukasi sayap aliran Tantrayana di masa lampau," jelas Museum dan Cagar Budaya Kemenbud RI.
Keberadaan pusat edukasi tersebut menjadikan Muara Jambi sebagai salah satu situs penting Buddha Mahayana di Asia. Kawasan ini juga disebut mendapatkan pengakuan dari Dalai Lama sebagai situs penting dalam perkembangan tradisi Buddha.
Jejak ajaran tentang akal budi dan mata batin yang tersebar di kawasan Muara Jambi kemudian berinteraksi dengan lingkungan masyarakat sekitarnya yang kuat dengan budaya Melayu Islam.
Perjumpaan berbagai unsur tersebut menjadi salah satu keistimewaan Muara Jambi. Kawasan ini tidak hanya menyimpan tinggalan religi, tetapi juga memperlihatkan dinamika budaya, kehidupan spiritual, dan hubungan antarmanusia yang berkembang dalam lingkungan masyarakat Melayu.
Muara Jambi memiliki karakter yang berbeda dengan sejumlah situs lainnya di Asia. Perpaduan antara sejarah, religi, budaya, dan kehidupan masyarakat menciptakan kawasan yang kaya akan kisah mengenai kebaikan dan keselarasan
Suasana hening yang menjadi karakter kawasan Muara Jambi juga menjadi bagian dari pengalaman dalam memahami sejarahnya. Jejak panjang perjalanan ilmu, budi pekerti, dan spiritualisme yang berkembang di kawasan tersebut membuka ruang bagi manusia untuk merenungkan hubungan dirinya dengan alam semesta.
Kawasan Percandian Muara Jambi pada akhirnya tidak hanya menjadi jejak peradaban masa lalu, tetapi juga menyimpan nilai kemanusiaan yang dapat dimaknai dalam konteks kehidupan masa kini dan masa mendatang. (*/ram)
Editor : Rizal AmrullohSumber : Museum dan Cagar Budaya Kemenbud RI