Riwayat Kopi Gunung Anjasmoro

Fendy Hermansyah • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 18:58 WIB
Petak Lahan Kopi di Pegunungan Anjasmoro Tahun 1890. (Sumber: https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/790255)
Petak Lahan Kopi di Pegunungan Anjasmoro Tahun 1890. (Sumber: https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/790255)

Berawal Cultuurstelsel, Bertahan 140 Tahun Lebih

Sebelum kopi Excelsa dikenal sebagai salah satu identitas kopi dari lereng Pegunungan Anjasmoro, kawasan ini lebih dulu menjadi bagian dari sejarah panjang perkebunan kopi di Jawa. Jejaknyabbahkan bisa ditarik hingga masa kolonial Belanda. 

KOPI mulai diperkenalkan secara intensif ketika Pemerintah Hindia Belanda menerapkan kebijakan Cultuurstelsel atau tanam paksa pada 1830. Kebijakan tersebut memang berakhir pada 1870, tetapi tanaman kopi tidak serta-merta ditinggalkan. Komoditas ini tetap dipertahankan karena memberikan keuntungan besar bagi pemerintah kolonial.

Salah satu wilayah yang kemudian berkembang sebagai kawasan penghasil kopi adalah Karesidenan Surabaya. Berdasarkan Regeerings-Almanak voor Nederlandsch-Indie tahun 1901, wilayah ini terdiri atas sejumlah afdeeling, antara lain Surabaya, Jombang, Sidoarjo, Mojokerto, Gresik, dan Lamongan.

Di wilayah Mojokerto, kawasan pegunungan menjadi lokasi yang cocok untuk budidaya kopi. Salah satunya berada di Distrik Jabung, kawasan yang berada di lereng Pegunungan Anjasmoro. Pada masa itu, Wonosalam juga masih menjadi bagian dari wilayah administratif Distrik Jabung, sebelum kemudian pada 1901 masuk ke Distrik Bareng.

Penanaman kopi di kawasan tersebut semakin intensif pada penghujung abad ke-19. Dalam Staatsblad van Nederlandsch-Indie 1879 Nomor 188, pemerintah kolonial mencatat pengembangan tanaman kopi di Karesidenan Surabaya. Beberapa tahun kemudian, melalui Staatsblad van Nederlandsch-Indie 1883 Nomor 263, kawasan perkebunan kopi diperluas hingga Distrik Jabung.

Pegunungan Anjasmoro pun perlahan dipenuhi kebun-kebun kopi. Pada periode 1870-an hingga 1890-an, sejumlah kawasan tercatat intensif ditanami kopi. Di antaranya Jatirejo, Gondang, Mojogeneng, Trawas, Pacet, dan Celaket.

Dokumen-dokumen kolonial menyebut jenis kopi yang ditanam kala itu adalah Liberika. Jenis kopi inilah yang kelak memiliki hubungan dengan kopi Excelsa yang dikenal sekarang.

Pembukaan Lahan untuk Tanaman Kopi di Perkebunan Sumber tahun 1900-an (Sumber: https://collectie.wereldculturen.nl/?query=search=*=TM-10012154)
Pembukaan Lahan untuk Tanaman Kopi di Perkebunan Sumber tahun 1900-an (Sumber: https://collectie.wereldculturen.nl/?query=search=*=TM-10012154)

Catatan tahun 1890 bahkan menunjukkan bahwa di Distrik Jabung terdapat sekitar 26 perkebunan kopi. Beberapa di antaranya tercatat secara resmi dengan nama Jembul, Blentreng, Begagan, Gumeng, Dlundung, Kali Jarak, Dampak, Banyon, Jae, Segunung, Mendiro, Pengajaran, dan Sumber.

Kebun-kebun tersebut berada di lereng Pegunungan Anjasmoro. Lanskapnya berbeda dengan perkebunan kopi modern yang banyak dijumpai sekarang. Kebun berada di tengah kawasan hutan dengan udara pegunungan yang sejuk. Pohon kopi tumbuh berdampingan dengan berbagai tanaman lain, seperti pinus, jati, durian, dan nangka.

Kondisi alam Pegunungan Anjasmoro rupanya menjadi bagian penting dari perjalanan kopi di kawasan ini. Bagi pemerintah kolonial, kopi bukan sekadar tanaman. Komoditas ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Dalam catatan Indisch Verslag, Statistisch Jaaroverzicht van Nederlandsch-Indie, harga kopi di Surabaya tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan gula. Harga kopi mencapai sekitar f 61,68 per 100 kilogram, sedangkan gula berada di kisaran f 12,59 per 100 kilogram.

Tak mengherankan jika pemerintah kolonial memberikan perhatian besar terhadap pengelolaan kopi. Bahkan, dibentuk petugas khusus yang dikenal sebagai mantri koffie. Mereka bertugas menerima setoran kopi dari petani sekaligus mengawasi proses penjualannya. Penduduk diwajibkan menjual hasil kopi kepada pemerintah kolonial.

Koran Tjahaja Timoer edisi 19 November 1917 mencatat, mantri koffie mendapatkan uang jalan sebesar f 15 sen dan upah f 60 sen. Totalnya mencapai f 75 sen. 

Menurut pemerhati sejarah Mojokerto Fendy Suhartanto, keberadaan perkebunan kopi di kawasan Anjasmoro menunjukkan bahwa tradisi kopi di wilayah tersebut memiliki akar sejarah yang panjang.

"Kopi di lereng Anjasmoro bukan sesuatu yang baru. Jejaknya sudah tercatat dalam dokumen-dokumen kolonial sejak lebih dari satu abad lalu. Yang menarik, tradisi itu tidak berhenti ketika pemerintahan kolonial berakhir. Tanaman kopi terus bertahan dan beradaptasi dengan masyarakat serta lingkungan setempat," kata Fendy.

Buah dan Tanaman Kopi Liberika di Dusun Blentreng Tahun 2022 (dok Fendy Suhartanto for JPRM) 
Buah dan Tanaman Kopi Liberika di Dusun Blentreng Tahun 2022 (dok Fendy Suhartanto for JPRM) 

Menurutnya, keberadaan kopi Excelsa di kawasan Anjasmoro saat ini dapat dilihat sebagai bagian dari perjalanan panjang tersebut. Dari tanaman yang dahulu dikembangkan untuk kepentingan ekonomi kolonial, kopi kemudian menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sekitar lereng pegunungan.

"Karena itu, kopi Anjasmoro tidak hanya menarik dilihat dari rasa atau nilai ekonominya. Ada sejarah panjang di baliknya. Ada perubahan zaman, perubahan pengelolaan perkebunan, dan tentu saja ada masyarakat yang mempertahankan tanaman kopi itu hingga sekarang," ujarnya.

Setelah Indonesia merdeka, sekitar 1958 dilakukan nasionalisasi perkebunan-perkebunan milik Belanda. Bekas perkebunan Belanda, termasuk yang sebelumnya dikelola perusahaan swasta Belanda, kemudian berada di bawah penguasaan pemerintah Indonesia.

Dalam perkembangannya, sebagian kawasan perkebunan juga dikuasai dan dikelola masyarakat setempat. Penanaman kopi pun terus berlanjut.

Kopi Liberika yang dahulu diperkenalkan pada masa kolonial mengalami penyesuaian dengan kondisi tanah dan iklim Pegunungan Anjasmoro. Dalam perjalanan panjang tersebut, kemudian dikenal kopi Excelsa yang kini tumbuh di kawasan ini.

Lebih dari 140 tahun setelah jejak perkebunan kopi kolonial mulai tercatat di lereng Anjasmoro, tanaman kopi masih bertahan. Kini, kopi Anjasmoro bukan lagi sekadar komoditas yang dihitung dalam gulden. Ia telah menjadi bagian dari lanskap, kehidupan petani, sekaligus cerita panjang masyarakat di lereng pegunungan. (fen)

Editor : Sofan Kurniawan
Kemenbud RI jawapos.com Kopi Indonesia