Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Riwayat Kopi Gunung Anjasmoro, Dari Liberika ke Excelsa

F
Penulis: Fendy Hermansyah❯
POTENSI ALAM: Perkebunan kopi di lereng Pegunungan Anjasmoro, Kabupaten Mojokerto yang dikelola sejak masa pemerintahan kolonial Belanda.
POTENSI ALAM: Perkebunan kopi di lereng Pegunungan Anjasmoro, Kabupaten Mojokerto yang dikelola sejak masa pemerintahan kolonial Belanda.

Advertisement

RADAR MAJAPAHIT - Sejarah kopi di Anjasmoro tidak berhenti ketika kekuasaan kolonial berakhir. Setelah Indonesia merdeka, perkebunan-perkebunan milik Belanda dinasionalisasi sekitar 1958. Bekas perkebunan Belanda, termasuk yang sebelumnya dikelola perusahaan swasta Belanda, kemudian berada di bawah penguasaan pemerintah Indonesia.

Dalam perkembangannya, sebagian kawasan perkebunan juga dikuasai dan dikelola masyarakat setempat. Penanaman kopi pun terus berlanjut. Di sinilah perjalanan panjang kopi dari lereng Anjasmoro menemukan babak baru.

Kopi Liberika yang dahulu diperkenalkan pada masa kolonial mengalami proses adaptasi terhadap kondisi tanah dan iklim setempat. Dari perjalanan panjang itulah kemudian dikenal kopi Excelsa, yang kini menjadi salah satu jenis kopi yang tumbuh di kawasan Pegunungan Anjasmoro.

Advertisement

Pemerhati sejarah Mojokerto Fendy Suhartanto mengatakan, keberlanjutan tanaman kopi di Anjasmoro menunjukkan adanya kesinambungan antara sejarah perkebunan masa kolonial dengan kehidupan masyarakat saat ini.

"Dulu kopi ditanam sebagai bagian dari kepentingan ekonomi pemerintah kolonial. Setelah Indonesia merdeka, tanaman itu justru terus bertahan dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Jadi, ada perubahan yang menarik, dari komoditas perkebunan kolonial menjadi bagian dari identitas masyarakat di lereng Anjasmoro,” kata Fendy.

HASIL BUMI: Biji kopi hasil perkebunan di lereng Pegunungan Anjasmoro, Kabupaten Mojokerto.
HASIL BUMI: Biji kopi hasil perkebunan di lereng Pegunungan Anjasmoro, Kabupaten Mojokerto.

Advertisement

Menurut Fendy, perjalanan dari Liberika hingga dikenal sebagai Excelsa juga memperlihatkan bagaimana tanaman kopi beradaptasi dengan lingkungan setempat.

“Yang menarik bukan hanya soal jenis kopinya, tetapi bagaimana tanaman itu bisa bertahan melewati perubahan zaman. Dari kebun-kebun yang dibangun pada masa kolonial, kemudian diwariskan dan dikelola masyarakat. Itu yang membuat kopi Anjasmoro memiliki nilai sejarah,” ujarnya.

Artinya, kopi yang tumbuh di lereng Anjasmoro hari ini bukan sekadar komoditas perkebunan.

Di balik aromanya, tersimpan jejak perjalanan lebih dari satu abad. Dari kebun-kebun kopi kolonial, tangan para petani, perubahan administrasi wilayah, nasionalisasi perkebunan, hingga generasi masyarakat yang tetap merawat tanaman kopi di lereng pegunungan.

Sekitar 140 tahun lalu, pemerintah kolonial menanam Liberika di kawasan ini untuk kepentingan ekonomi mereka. Kini, generasi setelahnya memetik cerita yang berbeda. Kopi itu tumbuh menjadi bagian dari identitas Anjasmoro. Dan setiap cangkirnya membawa jejak sejarah dari lereng pegunungan Mojokerto. (fen/ram)

Advertisement

Artikel Terkait

Riwayat Kopi Gunung Anjasmoro

Riwayat Kopi Gunung Anjasmoro

Kopi di lereng Anjasmoro bukan sesuatu yang baru. Jejaknya sudah tercatat dalam dokumen-dokumen kolonial sejak lebih dari satu abad lalu.

Diplomasi Era Majapahit, Warga Asing di Wilwatikta Turut Dipungut Pajak

Diplomasi Era Majapahit, Warga Asing di Wilwatikta Turut Dipungut Pajak

keberadaan warga asing di Wilwatikta, ibu kota Majapahit, juga menunjukkan adanya sistem pengelolaan komunitas pendatang dalam urusan pajak

Diplomasi Majapahit Menjangkau Asia, Dari Hubungan Politik hingga Perdagangan

Diplomasi Majapahit Menjangkau Asia, Dari Hubungan Politik hingga Perdagangan

Kerajaan Majapahit membangun hubungan diplomasi dan perdagangan dengan sejumlah kerajaan di Asia.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer