Ayuhanafiq menuturkan, Kompi Kamas memiliki daerah operasi yang cukup luas. Wilayah jelajahnya mulai dari Puri, Sooko, Trowulan, hingga Kota Mojokerto.
Menurutnya, Pasukan Kucing Hitam dikenal tak takut musuh. Bahkan, Kapten Kamas kerap muncul secara terang-terangan di sekitar pos pertahanan Belanda di Brangkal meski saat siang hari. ”Belanda kemudian sampai mengeluarkan sayembara untuk menangkap Kamas hidup atau mati,” ujarnya.
Tekanan yang terus dilancarkan para pejuang akhirnya berdampak pada kondisi psikologis prajurit Belanda. Bahkan, dalam berita yang dimuat dari koran De Waarheid edisi 23 November 1947 terbitan Belanda, tercatat ada tiga personel berpangkat perwira dan letnan yang memilih untuk mengakhiri hidupnya.
Di samping kasus bunuh diri, sebut Yuhan, keprihatinan juga melanda internal pasukan Belanda. Tekanan batin tersebut diakibatkan karena minimnya santunan bagi prajurit yang gugur.
Seorang sersan dalam suratnya ke koran De Waarheid menyebutkan, ada prajurit yang gugur dan meninggalkan keluarga besar, namun hanya diberi uang pensiun sebesar f 12 gulden. ”Anggota batalyon akhirnya berinisiatif mengumpulkan donasi mandiri untuk membantu keluarga korban tewas maupun prajurit yang mengalami cacat permanen,” paparnya.
Rasa frustrasi pun diungkapkan para serdadu lewat coretan mural di dinding bangunan sekitar pos penjagaan Brangkal. Mural tersebut menggambarkan notasi dan syair lagu En als we weer in Holland zijn yang bermakna Kapan kita kembali ke Belanda lagi.
Keresahan para serdadu yang frustrasi itu kemudian sampai pada petinggi militer Belanda. Pada 14 April 1948, Batalyon 2-5 RI akhirnya dipindahkan ke Sidoarjo sebelum akhirnya dipulangkan ke Belanda.
”Selama masa penugasannya, Batalyon 2-5 RI mencatat kehilangan 30 anggotanya, sebagian besar tewas di tanah Mojokerto,” pungkas Yuhan. (ram/ris)
Editor : Rizal Amrulloh