Semiotika Merah Putih dari Majapahit hingga Indonesia Modern

Sofan Kurniawan • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 20:17 WIB
SANG SAKA: Lukisan Candi Brahu dan Merah Putih karya Yusron seniman asal Jombang.
SANG SAKA: Lukisan Candi Brahu dan Merah Putih karya Yusron seniman asal Jombang.

RADAR MAJAPAHIT - Memasuki bulan Agustus ini, kita melihat bendera berkibar di mana- mana. Warga memasang bendera dan umbul-umbul bernuansa merah putih untuk merayakan bulan kemerdekaan.

Bendera merah putih tak sekadar simbol yang lahir pada tahun 1945. Jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI dikumandangkan, kombinasi warna merah dan putih telah memiliki kedudukan sakral dalam peradaban Nusantara. Akar historis paling kuat dari panji ini runtut hingga masa kejayaan Kerajaan Majapahit pada abad ke-13.

Sebelum menjadi lambang negara, merah dan putih melambangkan dualitas alam yang saling melengkapi dalam filosofi Jawa masa lalu. Merah berarti getih, melambangkan darah, unsur ibu, bumi, dan keberanian. Sementara putih yaitu getah, melambangkan sperma, unsur ayah, langit, dan kesucian. Komplementasi warna ini dianggap sebagai lambang kehidupan yang harmonis.

Panji Gula Kelapa di Masa Majapahit

Pada masa keemasan Kerajaan Majapahit (1293–1527 M), kombinasi merah dan putih digunakan sebagai lambang kebesaran kerajaan. Panji ini dikenal dengan nama "Sang Saka Gula Kelapa" atau "Sang Merah Putih".

Istilah Gula Kelapa merujuk pada gula merah (dari pohon kelapa/aren) yang berwarna kemerahan dan daging buah kelapa yang berwarna putih bersih.

Dalam kitab Negarakertagama karya Prapanca, disebutkan bahwa kain berwarna merah dan putih digunakan dalam upacara-upacara keagamaan dan kebesaran raja. Bendera ini dipasang pada kereta Raja Hayam Wuruk saat melakukan perjalanan keliling wilayah kerajaan.

Selain sebagai simbol kerajaan, garis-garis merah dan putih juga digunakan sebagai bendera armada laut Majapahit di bawah komando Mahapatih Gajah Mada. Bendera ini terdiri dari beberapa garis horizontal merah dan putih selang-seling (biasanya berjumlah 9 atau lima garis merah dan empat garis putih). Desain bergaris ini berfungsi sebagai penanda visual yang jelas di laut agar kapal kawan dapat mengenali satu sama lain dari kejauhan saat memperluas pengaruh di seantero Nusantara.

Estafet Perjuangan Menuju Kemerdekaan

Setelah runtuhnya Majapahit, tradisi warna merah putih tidak hilang. Warna-warna ini terus diadopsi oleh berbagai pejuang Nusantara, seperti Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825–1830).


Pada awal abad ke-20, para mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda menghidupkan kembali warna Majapahit ini sebagai simbol pergerakan nasional. Puncaknya, pada Sumpah Pemuda tahun 1928 dan Proklamasi 17 Agustus 1945, merah putih secara resmi dikukuhkan sebagai bendera resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menatap bendera merah putih hari ini berarti melihat lorong waktu yang menghubungkan Indonesia modern dengan kejayaan Nusantara mula-mula. Dari Sang Saka Gula Kelapa milik Majapahit hingga bendera pusaka yang berkibar seantero Indonesia. Merah putih adalah semiotika, kejayaan, keberanian, dan kesucian bangsa kita yang mengakar kuat sejak dulu kala. (fan/ram)

Editor : Rizal Amrulloh
majapahit indonesia sang saka gula kelapa