Candi Sukuh, Warisan Akhir Majapahit dengan Arsitektur Piramida Terpancung

Rizal Amrulloh • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 20:05 WIB
ARSITEKTUR KUNO: Situs Cagar Budaya Candi Sukuh di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah yang dibangun sekitar abad ke-15 Masehi.
ARSITEKTUR KUNO: Situs Cagar Budaya Candi Sukuh di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah yang dibangun sekitar abad ke-15 Masehi.

RADAR MAJAPAHIT – Situs Cagar Budaya Candi Sukuh di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menjadi salah satu peninggalan masa akhir periode klasik Hindu-Buddha. Candi ini dibangun sekitar abad ke-15 Masehi pada masa pemerintahan Ratu Suhita, yang berlangsung pada 1429–1446.

Berdasarkan ulasan Museum dan Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI, kompleks Candi Sukuh memiliki tata ruang yang khas. Situs ini terdiri atas tiga halaman teras yang semakin ke belakang memiliki posisi lebih tinggi. Setiap teras dibatasi pagar atau talud batu dan untuk memasuki masing-masing teras terdapat gapura.

Pada halaman ketiga yang merupakan bagian paling sakral, terdapat struktur candi utama berukuran 15 x 15 meter. Candi utama tersebut memiliki bentuk yang tidak umum dibandingkan bangunan candi lainnya, yakni menyerupai piramida terpancung.

Bentuk piramida terpancung menjadi salah satu kekhasan Candi Sukuh. Arsitektur tersebut disebut sebagai karya kreatif yang sangat langka dan tidak umum ditemukan pada candi-candi lain di Indonesia.
Selain keunikan arsitekturnya, Candi Sukuh juga memiliki nilai yang berkaitan dengan pembebasan, penyucian kembali atau ruwatan, serta mitologi yang tergambar melalui tokoh-tokoh arca dan kisah yang terdapat di kompleks candi.

Sejumlah cerita yang menjadi ciri khas Candi Sukuh antara lain Garudeya, yang mengisahkan pembebasan Dewi Winata; Bima Suci, tentang pencerahan Bima oleh Dewa Ruci dalam kisah pencarian Tirtha Amrta; serta Sudhamala, yang mengisahkan pembebasan atau pelepasan kutukan Dewi Durga oleh Sadewa.

Selain itu, terdapat pula kisah Samudramanthana yang menjadi bagian dari kekayaan cerita dan mitologi yang melekat pada Candi Sukuh.

Keberadaan struktur, tata ruang, serta kisah-kisah mitologis tersebut menjadikan Candi Sukuh sebagai situs cagar budaya yang memiliki karakter khas. Warisan masa akhir Majapahit ini memperlihatkan kreativitas arsitektur sekaligus nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Hindu-Buddha pada masanya. (*/ram)

Editor : Rizal Amrulloh
Sumber : Museum dan Cagar Budaya Kemenbud RI
Museum dan Cagar Budaya Candi Sukuh