
MOJOKERTO – Kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, tak hanya menawarkan jejak kejayaan Kerajaan Majapahit. Kawasan yang menyimpan beragam peninggalan sejarah ini juga menjadi bagian dari perjalanan wisata religi lintas budaya. Sejumlah situs bersejarah kerap disinggahi rombongan peziarah yang melintasi Mojokerto dalam rangkaian perjalanan ziarah mereka.
Seperti terlihat pada Sabtu kemarin, puluhan rombongan peziarah mengunjungi Situs Gapura Bajang Ratu di Desa Temon, Kecamatan Trowulan. Di tengah perjalanan religi, mereka menyempatkan diri melihat langsung bangunan bersejarah yang menjadi salah satu ikon peninggalan era Majapahit tersebut.
Rahmat, salah satu peziarah asal Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan, mengatakan, kunjungan ke Trowulan merupakan bagian dari rangkaian perjalanan ziarah yang dilakukan rombongannya. Rute perjalanan dimulai dari makam KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Jombang, dilanjutkan ke kompleks makam Syekh Jumadil Kubro di Troloyo, Trowulan, sebelum singgah di sejumlah situs peninggalan Kerajaan Majapahit.
“Setelah ziarah ke makam Gus Dur di Jombang, kami melanjutkan ke makam Syekh Jumadil Kubro di Troloyo. Setelah itu, mampir ke situs peninggalan Majapahit,” ujar Rahmat.
Bagi rombongan peziarah, persinggahan di situs-situs Majapahit memberikan pengalaman berbeda dalam perjalanan mereka. Ziarah tidak hanya menjadi kesempatan untuk berdoa dan mengenang tokoh-tokoh yang dihormati, tetapi juga membuka ruang untuk mengenal sejarah dan peradaban masa lalu.
Meski bukan peninggalan era Islam, Situs Gapura Bajang Ratu, Candi Tikus, dan sejumlah situs arkeologi lainnya kerap masuk dalam rangkaian kunjungan wisata para peziarah. Keberadaan situs-situs tersebut menunjukkan bahwa perjalanan religi di kawasan Trowulan dapat berpadu dengan wisata sejarah dan edukasi budaya.

Daya tarik Trowulan juga tidak berhenti pada peninggalan Majapahit. Di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, terdapat Maha Vihara Majapahit yang dikenal dengan patung Buddha tidur berukuran besar. Tempat ibadah umat Buddha ini menjadi salah satu destinasi yang memperlihatkan kekayaan warisan budaya dan kehidupan keagamaan di kawasan tersebut.
Beragam tujuan kunjungan itu menghadirkan wajah Trowulan sebagai kawasan yang menyimpan banyak lapisan sejarah dan tradisi. Dari makam tokoh penyebar Islam, situs peninggalan kerajaan Hindu-Buddha, hingga vihara dengan ikon Buddha tidur, semuanya menjadi bagian dari perjalanan mengenal masa lalu dan keberagaman masyarakat.
Trowulan pun memiliki potensi sebagai ruang perjumpaan lintas budaya dan keyakinan. Bukan semata-mata karena banyaknya destinasi yang dapat dikunjungi, melainkan juga karena kawasan ini memperlihatkan bagaimana warisan sejarah dari latar belakang berbeda dapat hadir berdampingan. Di antara jejak batu bata merah peninggalan Majapahit dan tempat-tempat yang menjadi tujuan umat untuk berziarah, Trowulan menawarkan pelajaran tentang sejarah, toleransi, dan kerukunan dalam keberagaman.(*/Sofanka)



