
Berawal Cultuurstelsel, Bertahan 140 Tahun Lebih
Sebelum kopi Excelsa dikenal sebagai salah satu identitas kopi dari lereng Pegunungan Anjasmoro, kawasan ini lebih dulu menjadi bagian dari sejarah panjang perkebunan kopi di Jawa. Jejaknyabbahkan bisa ditarik hingga masa kolonial Belanda.
KOPI mulai diperkenalkan secara intensif ketika Pemerintah Hindia Belanda menerapkan kebijakan Cultuurstelsel atau tanam paksa pada 1830. Kebijakan tersebut memang berakhir pada 1870, tetapi tanaman kopi tidak serta-merta ditinggalkan. Komoditas ini tetap dipertahankan karena memberikan keuntungan besar bagi pemerintah kolonial.
Salah satu wilayah yang kemudian berkembang sebagai kawasan penghasil kopi adalah Karesidenan Surabaya. Berdasarkan Regeerings-Almanak voor Nederlandsch-Indie tahun 1901, wilayah ini terdiri atas sejumlah afdeeling, antara lain Surabaya, Jombang, Sidoarjo, Mojokerto, Gresik, dan Lamongan.
Di wilayah Mojokerto, kawasan pegunungan menjadi lokasi yang cocok untuk budidaya kopi. Salah satunya berada di Distrik Jabung, kawasan yang berada di lereng Pegunungan Anjasmoro. Pada masa itu, Wonosalam juga masih menjadi bagian dari wilayah administratif Distrik Jabung, sebelum kemudian pada 1901 masuk ke Distrik Bareng.
Penanaman kopi di kawasan tersebut semakin intensif pada penghujung abad ke-19. Dalam Staatsblad van Nederlandsch-Indie 1879 Nomor 188, pemerintah kolonial mencatat pengembangan tanaman kopi di Karesidenan Surabaya. Beberapa tahun kemudian, melalui Staatsblad van Nederlandsch-Indie 1883 Nomor 263, kawasan perkebunan kopi diperluas hingga Distrik Jabung.
Pegunungan Anjasmoro pun perlahan dipenuhi kebun-kebun kopi. Pada periode 1870-an hingga 1890-an, sejumlah kawasan tercatat intensif ditanami kopi. Di antaranya Jatirejo, Gondang, Mojogeneng, Trawas, Pacet, dan Celaket.
Dokumen-dokumen kolonial menyebut jenis kopi yang ditanam kala itu adalah Liberika. Jenis kopi inilah yang kelak memiliki hubungan dengan kopi Excelsa yang dikenal sekarang.

Kebun-kebun tersebut berada di lereng Pegunungan Anjasmoro. Lanskapnya berbeda dengan perkebunan kopi modern yang banyak dijumpai sekarang. Kebun berada di tengah kawasan hutan dengan udara pegunungan yang sejuk. Pohon kopi tumbuh berdampingan dengan berbagai tanaman lain, seperti pinus, jati, durian, dan nangka.
Kondisi alam Pegunungan Anjasmoro rupanya menjadi bagian penting dari perjalanan kopi di kawasan ini. Bagi pemerintah kolonial, kopi bukan sekadar tanaman. Komoditas ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi.



