Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Majapahit dan Rahasia Resonansi Alam Semesta di Trowulan Mojokerto

I
Penulis: Imron Arlado❯

Gapura Candi Bajang Ratu
Gapura Candi Bajang Ratu


Advertisement

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Di antara puing-puing bata merah yang ada di Trowulan Mojokerto, para peneliti dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI pernah menemukan sebuah relief yang unik. 

Di sana, tergambar sekumpulan figur yang sedang menabuh alat musik, kendang, gong, dan seruling. Yang menarik dari penemuan ini bukan hanya reliefnya, tetapi juga desain ruang di sekelilingnya.

Dinding-dinding bata tersebut ternyata dapat memantulkan suara dengan sempurna, seolah memang dirancang untuk didengar.

Advertisement

Penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta pada tahun 2017, mengungkapkan bahwa sejumlah struktur di Trowulan termasuk pendapa dari bata dan sumur berlapis batu, memiliki kemampuan resonansi alami. 

 

Advertisement

 

Ketika diuji dengan suara, ruang-ruang ini memantulkan gema pada frekuensi yang stabil, sekitar 432 Hz, frekuensi yang dalam tradisi kuno dipercaya selaras dengan getaran alam semesta. 

Temuan ini menunjukkan bahwa Majapahit memiliki pengetahuan yang mendalam tentang akustika suci, yaitu seni menciptakan ruang yang menghasilkan harmoni bunyi. 

Dalam masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350–1389 M), seni musik Majapahit mencapai puncak kejayaannya. 

 

 

Catatan dalam Negarakertagama karya Mpu Prapanca menggambarkan perayaan istana yang megah, dengan iringan gamelan, genderang, dan seruling yang terdengar hingga malam hari.  

Namun di balik kemewahan itu, musik juga memainkan peran sakral. Setiap nada dianggap sebagai doa, setiap getaran menjadi persembahan. 

Beberapa situs di Trowulan, seperti Candi Brahu dan Gapura Bajang Ratu, juga menunjukkan struktur akustik yang serupa. 

Dinding bata miring dan ruang setengah terbuka menghasilkan efek pantulan suara yang khas.

Para peneliti menyebutnya sebagai bentuk awal arsitektur musikal, jauh sebelum konsep teater dan akustika modern dikenal di dunia Barat.

Majapahit tidak hanya mendirikan kerajaan di atas permukaan tanah, tetapi juga menciptakan kerajaan suara, sebuah peradaban yang memahami bahwa musik adalah bahasa alam semesta. 

Dan di antara bata merah Trowulan yang sunyi itu, suara Majapahit masih bernyanyi, pelan tapi abadi. (Tri Yulia Setyoningrum/Wulandari)

Advertisement

Artikel Terkait

Cinandang Culture Carnival 2026, Angkat Potensi Desa lewat Karnaval Budaya

Cinandang Culture Carnival 2026, Angkat Potensi Desa lewat Karnaval Budaya

Pemerintah Desa Cinandang, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, sukses menggelar Cinandang Culture Carnival 2026, Minggu (13/9).

Eagle Fest 2026, Ajang Kreasi Seni Tradisonal dan Budaya Nusantara

Eagle Fest 2026, Ajang Kreasi Seni Tradisonal dan Budaya Nusantara

Mengusung tema Nusantara, Eagle Fest yang berlangsung pada 12–13 September 2026 di Sunrise Mall Mojokerto sukses digelar.

Mitigasi Bencana Era Majapahit, Rawat Bendungan hingga Konservasi Hutan

Mitigasi Bencana Era Majapahit, Rawat Bendungan hingga Konservasi Hutan

Masyarakat di masa Kerajaan Majapahit tak lepas dari ancaman bencana alam mulai banjir bandang hingga kebakaran hutan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer