Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ritual Pewangi Api, Ketika Majapahit Menyatu dengan Alam dan Dewa

I
Penulis: Imron Arlado❯

Ritual pewangi api, ketika Majapahit menyatu dengan alam dan Dewa
Ritual pewangi api, ketika Majapahit menyatu dengan alam dan Dewa


Advertisement

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Di antara tumpukan bata merah dan potongan tembikar kuno di Trowulan, Mojokerto, sekelompok arkeolog dari Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur pernah menemukan sebuah benda kecil yang tampak tidak berarti, yaitu mangkuk tanah liat berjelaga, yang berisikan sisa resin yang telah kering. 

Saat dipanaskan, resin itu mengeluarkan aroma samar kayu cendana dan damar. Penemuan ini menimbulkan berbagai spekulasi menarik. 

Mangkuk tersebut bukan alat masak, melainkan wadah dupa dari sebuah ritual kuno kerajaan Majapahit, upacara pemurnian diri yang dikenal dalam naskah kuno sebagai pangruwat geni atau “pewangi api”.

Advertisement

Ritual ini lebih dari sekadar aktifitas spiritual, melainkan merupakan refleksi dari cara pemikiran Majapahit mengenai keseimbangan antara tubuh, jiwa, dan alam semesta.

 

Advertisement

 

Api dianggap bukan hanya sumber cahaya, tetapi napas para dewa. Dalam asap harum yang tertiup, masyarakat Majapahit meyakini bahwa doa mereka akan terbang dan diterima oleh kekuatan suci di langit. 

Menurut sejarawan budaya Universitas Udayana, Dr. R. Puspita Wardhani, konsep pewangi api menunjukkan betapa Majapahit telah memadukan nilai spiritual Siwa–Buddha dengan kearifan lokal Nusantara.

Tradisi ini biasanya dilakukan menjelang upacara penting kerajaan atau saat perayaan tahun baru saka. 

Para wanita istana menjalani pembersihan diri dengan duduk di atas bara dupa, sambil mengucap mantra pemujaan. 

Kegiatan ini diyakini dapat menenangkan jiwa, memperindah kulit, serta mengusir energi negatif.

 

 

Hingga kini, jejak tradisi pewangi api masih terasa di beberapa daerah sekitar Mojokerto dan Blitar, terutama dalam ritual ruwatan kemenyan yang dilakukan masyarakat menjelang bulan Suro. 

Berbeda dengan dulu, di mana dupa menjadi simbol kerajaan, kini ia berfungsi sebagai alat spiritual bagi rakyat. 

Dari asap dupa yang menyala di tempat tenang, seolah kita bisa mendengar gema masa lalu, bisikan doa, keheningan jiwa, dan rasa hormat terhadap alam.

 

Majapahit memang dikenal karena perang dan kebesaran istananya, tetapi mungkin, kekuatannya yang sejati justru terletak pada hal-hal yang lembut, pada wangi dupa yang menyucikan jiwa dan menautkan manusia dengan semesta. (Tri Yulia Setyoningrum/Wulandari)

Advertisement

Artikel Terkait

Cinandang Culture Carnival 2026, Angkat Potensi Desa lewat Karnaval Budaya

Cinandang Culture Carnival 2026, Angkat Potensi Desa lewat Karnaval Budaya

Pemerintah Desa Cinandang, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, sukses menggelar Cinandang Culture Carnival 2026, Minggu (13/9).

Eagle Fest 2026, Ajang Kreasi Seni Tradisonal dan Budaya Nusantara

Eagle Fest 2026, Ajang Kreasi Seni Tradisonal dan Budaya Nusantara

Mengusung tema Nusantara, Eagle Fest yang berlangsung pada 12–13 September 2026 di Sunrise Mall Mojokerto sukses digelar.

Pemugaran Situs Tribuana Tunggadewi di Mojokerto Sentuh Pagar Kuno

Pemugaran Situs Tribuana Tunggadewi di Mojokerto Sentuh Pagar Kuno

Upaya pelestarian peninggalan Kerajaan Majapahit terus dilakukan di kompleks Situs Bhre Kahuripan atau Situs Tribuana Tunggadewi.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer