NMEC Mesir Jadi Rujukan Menbud Kembangkan Museum sebagai Etalase Peradaban

Rizal Amrulloh • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 07:57 WIB
LINTAS ZAMAN: Menbud RI Fadli Zon saat berkunjung ke National Museum of Egyptian Civilization (NMEC), Kairo, Mesir. (Foto: Kemenbud RI)
LINTAS ZAMAN: Menbud RI Fadli Zon saat berkunjung ke National Museum of Egyptian Civilization (NMEC), Kairo, Mesir. (Foto: Kemenbud RI)

RADAR MAJAPAHIT – Menteri Kebudayaan (Menbud) RI Fadli Zon melihat pengelolaan museum di Mesir sebagai salah satu rujukan bagi Indonesia dalam mengembangkan museum sebagai etalase peradaban sekaligus bagian dari ekonomi budaya. Hal itu disampaikan Fadli Zon saat mengunjungi National Museum of Egyptian Civilization (NMEC) di Kairo, di sela kunjungan kerjanya di Mesir, Selasa (22/9).

NMEC merupakan museum yang didirikan pada 2021 dan menampilkan perjalanan panjang peradaban Mesir, mulai dari masa Mesir kuno, era Koptik, masa Islam, hingga periode modern.

Menurut Fadli Zon, museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan dan merawat koleksi. Museum juga dapat menjadi ruang untuk menghadirkan perjalanan sebuah peradaban sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi berbasis budaya.

"Mesir telah menjadikan museum-museum ini sebagai bagian dari etalase budaya, etalase peradaban mereka, dan bahkan menjadi sumber dari ekonomi budaya,” jelas Menbud.

NMEC diresmikan bersamaan dengan pelaksanaan Pharaohs' Golden Parade, yakni pemindahan mumi para Firaun dari museum nasional menuju museum tersebut. 

Saat ini, jumlah pengunjung NMEC diperkirakan mencapai 10.000 orang setiap hari. Aktivitas kunjungan tersebut juga didukung berbagai fasilitas penunjang yang memiliki nilai ekonomi.

"Aktivitas tersebut juga didukung dengan berbagai fasilitas dan kegiatan ekonomi, antara lain penjualan merchandise, adanya coffee shop, dan layanan lainnya,” ungkap Fadli Zon.

Salah satu daya tarik utama NMEC adalah koleksi mumi para Firaun, atau raja dan ratu Mesir dari berbagai dinasti. Koleksi tersebut mencapai ratusan raja dan ratu.

Selain mumi, museum juga memperlihatkan perkembangan pengetahuan dan teknologi yang telah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Salah satunya ditampilkan melalui koleksi dan pameran tapestri atau tekstil.

Bagi Fadli Zon, koleksi tersebut menunjukkan panjangnya perjalanan peradaban Mesir serta perkembangan pengetahuan dan teknologi yang berlangsung lintas zaman.

Melalui penataan pameran, perjalanan tersebut tidak hanya disimpan sebagai benda sejarah, tetapi dihadirkan menjadi pengalaman bagi pengunjung untuk memahami perkembangan peradaban Mesir.

Pengelolaan NMEC menunjukkan bagaimana sejarah dan warisan peradaban dapat dikemas menjadi pengalaman budaya yang sekaligus memiliki nilai ekonomi.

Narasi perjalanan Mesir dari masa kuno hingga modern menjadi bagian penting dalam membangun daya tarik museum. Sejarah tidak berhenti pada proses konservasi koleksi, tetapi dikemas agar dapat dinikmati dan dipahami masyarakat.

Fadli Zon menilai pengalaman dari kunjungannya ke museum-museum di Mesir dapat menjadi benchmark bagi Indonesia.

Menurutnya, museum di Indonesia perlu dipandang sebagai etalase peradaban, bukan semata tempat penyimpanan koleksi. Museum harus mampu menghidupkan narasi perjalanan peradaban Indonesia, mulai dari kekayaan warisan budaya di tingkat hulu hingga menjadi pengalaman budaya yang memiliki nilai ekonomi di tingkat hilir.

Dalam skema tersebut, Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI mendorong transformasi, modernisasi, dan digitalisasi museum untuk memperkuat keterhubungan antara pelestarian, pemanfaatan, edukasi, apresiasi, hingga penciptaan nilai ekonomi budaya.

"Museum tidak hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi menjadi ruang yang menghidupkan kebudayaan, memperkuat identitas dan kebanggaan nasional, serta membuka peluang bagi tumbuhnya ekonomi budaya Indonesia,” tegas Fadli Zon. (*/ram)

Editor : Rizal Amrulloh
Sumber : Kemenbud RI
Kemenbud RI Museum Indonesia fadli zon