Ndalem Joyodipuran Akan Direvitalisasi Kemenbud, Disulap Jadi Museum Mataram Kuno

Rizal Amrulloh • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 08:04 WIB
ENSIKLOPEDIA JAWA: Menbud Fadli Zon melihat naskah Serat Centhini atau dikenal juga sebagai Suluk Tambangraras di Ndalem Joyodipuran Yogyakarta. (Foto: Kemenbud RI/Heri Budi Santoso)
ENSIKLOPEDIA JAWA: Menbud Fadli Zon melihat naskah Serat Centhini atau dikenal juga sebagai Suluk Tambangraras di Ndalem Joyodipuran Yogyakarta. (Foto: Kemenbud RI/Heri Budi Santoso)

RADAR MAJAPAHIT - Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI menyiapkan revitalisasi kawasan cagar budaya nasional Ndalem Joyodipuran di Yogyakarta. Kawasan yang sebelumnya digunakan sebagai kantor Balai Pelestarian Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu akan dialihfungsikan menjadi Museum Mataram Kuno sekaligus pusat kegiatan kebudayaan atau cultural enclave bagi masyarakat.

Rencana tersebut disiapkan setelah aktivitas perkantoran Balai Pelestarian Kebudayaan DIY berpindah ke lokasi baru. Dengan demikian, kawasan Ndalem Joyodipuran dapat dimanfaatkan secara lebih optimal sebagai ruang edukasi, pelestarian, dan aktivitas kebudayaan.

Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengatakan, keberadaan Museum Mataram Kuno nantinya diharapkan dapat memperkuat pemahaman masyarakat mengenai perjalanan peradaban Nusantara, khususnya mengenai karakteristik Mataram Kuno yang berbeda dengan periode Mataram Islam. 

"Kawasan ini akan direvitalisasi menjadi Museum Mataram Kuno. Koleksi artefak yang kami miliki, termasuk peninggalan era perunggu dan arca-arca, akan ditata agar dapat diakses publik secara edukatif, nyaman, dan informatif. Tempat ini kami siapkan menjadi cultural enclave atau kantong budaya bagi masyarakat,” ungkap Fadli Zon usai menilik Ndalem Joyodipuran, Selasa (8/9).

Dalam pelaksanaannya, revitalisasi tetap akan memperhatikan prinsip pelestarian cagar budaya. Struktur asli Ndalem Joyodipuran akan dipertahankan semaksimal mungkin untuk menjaga nilai sejarah dan karakter arsitektur bangunan.
Di sisi lain, fasilitas tata pamer akan dikembangkan dengan pendekatan yang lebih modern. Penataan tersebut diarahkan agar koleksi dapat disajikan secara aman, informatif, sekaligus memberikan pengalaman yang nyaman bagi pengunjung.

Ndalem Joyodipuran tidak hanya memiliki nilai penting dari sisi arkeologi dan arsitektur. Kawasan tersebut juga menyimpan jejak sejarah pergerakan kebangsaan Indonesia.
Bangunan ini tercatat pernah menjadi kantor sekretariat Jong Java generasi awal. Pendapa Ndalem Joyodipuran juga menjadi lokasi Kongres Perempuan Indonesia Pertama yang berlangsung pada 22 Desember 1928.

Kongres tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah gerakan perempuan Indonesia dan kemudian menjadi dasar peringatan Hari Ibu setiap 22 Desember. Momentum tersebut juga akan memasuki usia satu abad pada 2028.
Dalam kunjungannya, Fadli Zon turut melihat koleksi naskah kuno yang tersimpan di perpustakaan Ndalem Joyodipuran. Salah satu yang mendapat perhatian adalah Serat Centhini, yang juga dikenal sebagai Suluk Tambangraras.

Serat Centhini merupakan salah satu karya penting dalam kesusastraan Jawa Baru. Naskah tersebut kerap disebut sebagai ensiklopedia kebudayaan Jawa karena memuat beragam pengetahuan dan gambaran kehidupan masyarakat Jawa, mulai dari kesenian, tradisi, filosofi, hingga berbagai aspek kehidupan sehari-hari.
Koleksi naskah yang berada di kawasan tersebut tercatat mencapai 675 naskah, yang terdiri atas berbagai babad, serat, termasuk serat-serat suluk.

"Serat Centhini merupakan salah satu serat penting yang lahir di era Pakubuwono IV yang berisi segala macam hal tentang kebudayaan Jawa yang dibuat pada era tahun 1800-an. Naskah Centhini ini salah satu rujukan penting di dalam kajian tentang budaya Jawa, mulai dari yang berkaitan dengan keris, sampai hal-hal seperti wayang, cerita-cerita kehidupan masyarakat Jawa, filosofi dan segala macamnya ada di Serat Centhini,” jelas Fadli Zon.

Kemenbud juga menyiapkan rencana untuk menjadikan Serat Centhini sebagai salah satu koleksi perpustakaan Museum Nasional. Upaya tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap naskah, baik dalam bentuk fisik maupun melalui koleksi yang telah didigitalisasi.
Fadli Zon menilai Serat Centhini dapat menjadi salah satu koleksi penting sekaligus ikon perpustakaan Museum Nasional di masa mendatang. Digitalisasi juga menjadi bagian penting untuk menjaga keberlangsungan naskah sekaligus memperluas pemanfaatannya untuk kepentingan pendidikan dan penelitian.

Revitalisasi Ndalem Joyodipuran pada akhirnya tidak hanya diarahkan untuk menghadirkan museum yang menampilkan benda-benda bersejarah. Kemenbud menargetkan kawasan tersebut berkembang menjadi simpul budaya yang hidup dan terbuka bagi masyarakat.

Ruang tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh seniman, budayawan, akademisi, peneliti, hingga masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap sejarah dan kebudayaan. Dengan konsep cultural enclave, Ndalem Joyodipuran diharapkan menjadi ruang pertemuan antara warisan masa lalu dan aktivitas kebudayaan masa kini. (*/ram)

Editor : Rizal Amrulloh
Sumber : Kemenbud RI
Kemenbud RI Museum Mataram Kuno yogyakarta fadli zon