Kalau Anak Muda Zaman Majapahit Nongkrong, di Mana?

Sofan Kurniawan • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 18:35 WIB
TONGKRONGAN : Gambar Ilurtasi tongkrongan anak muda era majapahit (gambar olah digital)
TONGKRONGAN : Gambar Ilurtasi tongkrongan anak muda era majapahit (gambar olah digital)

Kalau anak muda zaman sekarang punya kafe, angkringan, dan warung kopi buat nongkrong, kira-kira anak muda zaman Majapahit ngumpul di mana?

Majapahit memang sering dibicarakan lewat raja, perang, politik, dan Gajah Mada. Padahal, di balik semua itu tentu ada anak muda yang menjalani kehidupan sehari-hari: bertemu teman, mencari hiburan, ngobrol ngalor-ngidul, sampai mungkin mencari gebetan.

Tentu saja tulisan ini adalah hasil angan-angan saja, belum ada catatan yang lengkap terkait tongkrongan anak muda pada era majapahit.
Lalu, tempat nongkrongnya di mana?mungkin saja :

1. Pinggir Sungai Brantas
Sungai Brantas bukan sekadar aliran air. Pada masa Majapahit, sungai menjadi jalur penting bagi aktivitas masyarakat dan perdagangan. Perahu hilir mudik, orang membawa barang, sementara tepian sungai tentu menjadi ruang yang ramai. Bisa jadi, di sela aktivitas itu ada anak muda yang duduk-duduk menikmati suasana, tapi mungkin gak sih sambil melumat es krim maca?

2. Pasar
Kalau sekarang pasar bisa menjadi tempat berburu jajanan sekaligus bertemu teman, suasana serupa sangat mungkin terjadi pada masa Majapahit. Pasar merupakan ruang yang ramai dengan pedagang dan pembeli. Anak muda bisa datang untuk jajan, bertemu kawan, atau sekadar melihat keramaian. Bedanya, belum ada QRIS.
Dan tentu saja, belum ada promo buy one get one.

3. Ruang Terbuka dan Pendapa
Berbagai ruang komunal menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Majapahit. Tempat semacam ini memungkinkan orang berkumpul, berdiskusi, atau bersosialisasi.
Kalau sekarang nongkrong bisa berujung ngobrol sampai lupa waktu, mungkin prinsipnya tidak jauh berbeda. Mungkin saja mereka ngobrolin bola

4. Sekitar Candi
Candi pada masa Majapahit tentu memiliki fungsi keagamaan dan kebudayaan, bukan sekadar lokasi wisata seperti sekarang.
Namun, kawasan di sekitarnya tetap menjadi bagian dari ruang kehidupan masyarakat. Kalau sekarang orang janjian, “Ketemu depan candi, ya,” pada masa itu tentu belum ada Google Maps.
Kalau tidak ketemu, ya mungkin saling kintak batin saja.

5. Tempat Pertunjukan
Anak muda sekarang punya konser, bioskop, dan festival. Masyarakat Majapahit juga mengenal seni pertunjukan, musik, dan tari sebagai bagian dari kehidupan budaya.
Menonton pertunjukan bisa menjadi pilihan hiburan. Hanya saja, setelah selesai mereka tidak bisa upload Instagram Story.
Karena Instagram belum lahir.

Jadi, Punya Tongkrongan atau Tidak?
Kita memang tidak punya catatan sejarah yang mengatakan, “Di sinilah anak muda Majapahit biasa nongkrong.”
Namun, pasar, tepian sungai, ruang terbuka, kawasan candi, hingga tempat pertunjukan merupakan ruang sosial yang memungkinkan orang bertemu dan berinteraksi.
Dan mungkin di situlah menariknya sejarah.
Majapahit bukan cuma soal kerajaan besar, raja, dan perang. Di baliknya ada manusia yang makan, bekerja, bepergian, mencari hiburan, berteman, bahkan mungkin punya kisah percintaan yang bikin susah tidur. 

Bedanya, anak muda sekarang tinggal bilang: “Gas ngopi.” Anak muda Majapahit?
Kita belum tahu.

Tapi kemungkinan satu hal tidak banyak berubah: dari zaman ke zaman, anak muda selalu punya ruang untuk bertemu dan mengukir kenangan (*sofan)

Editor : Sofan Kurniawan
mojokerto generasi muda