MOJOKERTO – Empat abad setelah kelahirannya, pemikiran Syekh Yusuf Al-Makassari masih relevan dibicarakan. Bukan hanya karena jejak perjuangannya melawan kolonialisme, tetapi juga nilai kemanusiaan, keteguhan prinsip, dan penolakannya terhadap kezaliman.
Nilai tersebut menjadi bahasan dalam Temu Narasi ”Refleksi 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari: Perkokoh Kebinekaan, Menginspirasi Zaman” di Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, Mojokerto, Rabu (16/9/2026).
Pengamat naskah klasik sekaligus ulama asal Pasuruan, KH Ahmad Kholili Kholil, mengatakan perjuangan Syekh Yusuf tidak semata-mata merupakan perlawanan terhadap bangsa asing. Pijakannya adalah prinsip tasawuf yang menolak segala bentuk kezaliman.
”Bertasawuf itu adalah anti kezaliman, apa pun kezaliman itu. Bukan spesifik anti kolonial atau anti orang asing,” tegas Kholili.
Menurut dia, Syekh Yusuf merupakan sosok yang berintegritas dan teguh memegang prinsip. Ketokohannya digunakan sebagai jalan perjuangan agama sekaligus membangun jaringan keilmuan yang luas.
Jejak intelektualnya bahkan melampaui Nusantara. Naskah dan peninggalan pemikirannya tersebar di sejumlah pusat keilmuan dunia, antara lain Makkah, Madinah, Teheran, Jerman, hingga Princeton University di Amerika Serikat.
Syekh Yusuf lahir di Tallo, Sulawesi Selatan, 3 Juli 1626. Perjalanan keilmuannya membawanya ke Aceh, Banten, Makkah, Yaman, dan Damaskus. Di Banten, ia menjadi pendidik agama dan mufti serta terlibat dalam perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa menghadapi Belanda.
Belanda kemudian mengasingkannya ke Ceylon (Sri Lanka) pada 1684 sebelum dipindahkan ke Cape Town, Afrika Selatan. Pengasingan tidak menghentikan dakwahnya hingga wafat pada 1699.
Indonesia menetapkan Syekh Yusuf sebagai Pahlawan Nasional pada 1995. Peringatan 400 tahun kelahirannya pada 2026 juga masuk agenda UNESCO Anniversary 2026.
Kholili menilai warisan intelektual Syekh Yusuf perlu terus dikaji, terutama melalui digitalisasi naskah. Ia tidak mendorong pemulangan naskah asli yang kini tersimpan di luar negeri karena pertimbangan pelestarian.
”Cukup kalau mau mengkaji, dicek versi digitalnya saja. Karena di sana lebih terjaga,” ujarnya.
Sementara itu, Dr Ahmad Ginanjar Sya’ban, M.Hum., menilai Syekh Yusuf dapat menjadi bagian dari diplomasi kebudayaan Indonesia di tingkat internasional. Indonesia memiliki banyak ulama intelektual yang warisannya belum dikenal luas dunia.
Selain Syekh Yusuf, ia menyebut Hamzah Fansuri, Abdus Samad Al-Palimbani, dan Nawawi Al-Bantani.
Menurut Ginanjar, pengenalan tokoh-tokoh tersebut perlu menggunakan medium yang dekat dengan generasi muda. Film, dokumenter, video pendek, infografis, hingga komik dapat menjadi sarana memperkenalkan gagasan mereka.
”Perlu dengan logika anak-anak muda zaman sekarang,” jelasnya.
Temu Narasi di Mojokerto menjadi pembuka rangkaian promosi ketokohan Syekh Yusuf Al-Makassari di enam wilayah Indonesia hingga Oktober 2026, yakni Jawa Timur, Aceh, DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara.
Empat abad berlalu, perjalanan Syekh Yusuf menunjukkan satu hal: gagasan dapat melampaui batas tempat dan zaman. Tantangannya kini adalah bagaimana warisan tersebut tidak sekadar dikenang, tetapi kembali dibaca dan dihidupkan dalam kehidupan masyarakat.(*/fan)
Editor : Sofan Kurniawan