Siddhartha Gautama: Jalan Panjang Menuju Pencerahan

Sofan Kurniawan • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 09:19 WIB
RUPANG BUDDHA: Foto Ilustrasi Fase perjalanan Sidharta Gautama dari kecil menuju dewasa (FOTO : Sofan Kurniawan)
RUPANG BUDDHA: Foto Ilustrasi Fase perjalanan Sidharta Gautama dari kecil menuju dewasa (FOTO : Sofan Kurniawan)

Oleh: Sofanka

Siddhartha Gautama lahir dalam kehidupan yang nyaris sempurna. Ia adalah putra Raja Suddhodana dari suku Sakya, yang hidup di kawasan Kapilavastu, di kaki Himalaya. Sebagai seorang bangsawan, Siddhartha dibesarkan dalam kemewahan dan dijauhkan dari segala kekurangan.

Namun kehidupan yang ia jalani itu tidak membuat batinnya benar-benar tenang.
Ketika keluar dari lingkungan istana, Siddhartha menyaksikan empat kenyataan yang mengubah arah hidupnya: seorang tua, orang sakit, orang mati, dan seorang pertapa. Ia mulai memahami bahwa usia, penyakit, dan kematian adalah kenyataan yang tak mungkin dihindari manusia.

Sementara pertapa menunjukkan kemungkinan lain: mencari jalan keluar dari penderitaan melalui kehidupan batin. Pada usia sekitar 29 tahun, Siddhartha meninggalkan istana, istri, dan putranya. Keputusan itu kemudian dikenal sebagai Great Renunciation atau pelepasan agung. Ia menanggalkan pakaian kebangsawanan dan memulai kehidupan sebagai seorang pertapa.

PENDERITAAN : Ilustrasi Sidharta Gautama menjalani laku spiritual dan mengalami penderitaan (FOTO: Sofan Kurniawan/ Jawa Pos Radar Mojokerto)
PENDERITAAN : Ilustrasi Sidharta Gautama menjalani laku spiritual dan mengalami penderitaan (FOTO: Sofan Kurniawan/ Jawa Pos Radar Mojokerto)

Siddhartha berguru kepada sejumlah guru spiritual. Ia mempelajari meditasi dan mencapai tingkat konsentrasi batin yang tinggi. Tetapi pengalaman itu belum menjawab pertanyaan mendasarnya: bagaimana manusia terbebas sepenuhnya dari penderitaan.

Ia kemudian menjalani tapa yang sangat keras bersama lima pertapa di Uruvela. Tubuhnya semakin kurus karena menahan lapar dan melakukan berbagai bentuk penyiksaan diri. Namun Siddhartha menyadari bahwa menyakiti tubuh bukanlah jalan menuju kebebasan batin.
Di titik itulah ia menemukan sebuah pemahaman penting: jalan menuju pencerahan tidak terletak pada kemewahan, tetapi juga bukan pada penyiksaan diri. Ia memilih jalan tengah.

Setelah menerima makanan dari seorang perempuan bernama Sujata, Siddhartha memulihkan tubuhnya. Lima pertapa yang bersamanya meninggalkannya karena menganggap ia telah menyerah pada kehidupan pertapaan. Siddhartha kemudian duduk bermeditasi di bawah pohon Bodhi di Uruvela, bertekad untuk tidak bangkit sebelum menemukan kebenaran.
Malam itu menjadi titik balik perjalanan panjangnya.

Dalam meditasi yang mendalam, Siddhartha menembus lapisan-lapisan pengalaman batin. Ia memahami rangkaian kelahiran dan kematian makhluk, hukum karma, serta akar penderitaan manusia. Ia melihat bahwa penderitaan berhubungan dengan keinginan dan kemelekatan, bahwa segala sesuatu yang muncul berada dalam perubahan, bahwa kebebasan dapat dicapai dengan memutus belenggu kemelekatan tersebut.

Menjelang fajar, ketika cahaya pagi mulai muncul, Siddhartha Gautama mencapai pencerahan sempurna. Ia tidak hanya menjadi seorang pertapa yang mencari kebenaran. Ia menjadi Buddha, yang berarti “Yang Tercerahkan” atau “Yang Terbangun”.

Pencerahan itu kemudian dirumuskan dalam ajaran tentang Empat Kebenaran Mulia: adanya penderitaan, sebab penderitaan, berakhirnya penderitaan, dan jalan menuju berakhirnya penderitaan. Jalan itu dikenal sebagai Jalan Mulia Berunsur Delapan, yang mencakup pandangan, niat, ucapan, tindakan, penghidupan, usaha, perhatian, dan konsentrasi yang benar.
Menariknya, perjalanan Siddhartha bukan kisah tentang seseorang yang menemukan kebenaran dengan mudah. Ia adalah perjalanan panjang melalui kemewahan, kegelisahan, pencarian, pertapaan, kegagalan, hingga akhirnya menemukan keseimbangan.

KREMASI: Ilustrasi Akhir perjalanan Sidharta Gautama di dunia dan meuju fase selanjutnya (FOTO : Sofan Kurniawan/Jawa Pos Radar Mojokerto)
KREMASI: Ilustrasi Akhir perjalanan Sidharta Gautama di dunia dan meuju fase selanjutnya (FOTO : Sofan Kurniawan/Jawa Pos Radar Mojokerto)

Dari seorang pangeran yang terlindung dari penderitaan, Siddhartha berubah menjadi seorang pengembara yang berani berhadapan dengan penderitaan. Dari tubuh yang disiksa oleh tapa, ia menemukan jalan tengah. Dari pencarian terhadap jawaban di luar dirinya, ia berbalik menyelami batinnya sendiri.

Setelah mencapai pencerahan, Buddha tidak memilih untuk menyimpan pengetahuannya bagi diri sendiri. Ia mulai mengajarkan Dharma kepada orang lain. Khotbah pertamanya disampaikan di Taman Rusa Isipatana, Sarnath, kepada lima pertapa yang dahulu menjadi rekan seperjalanannya.

Dengan demikian, laku Siddhartha Gautama bukan sekadar kisah seorang manusia yang menjadi Buddha. Ia adalah kisah tentang keberanian dalam memilih jalan kehidupan, kesediaan meninggalkan kenyamanan, ketekunan menghadapi kegagalan, dan kemampuan menemukan jalan di antara dua kutub yang berlawanan.

Di bawah pohon Bodhi, Siddhartha menemukan bahwa pencerahan bukanlah pelarian dari kenyataan hidup. Laku itu justru merupakan cara baru untuk melihat kehidupan, dengan memahami penderitaan, menerima perubahan, dan melepaskan kemelekatan.

Barangkali di situlah makna terdalam perjalanan Siddhartha: bahwa jalan menuju kebijaksanaan tidak selalu membawa seseorang semakin jauh dari dunia. Jalan itu justru dimulai ketika manusia berani melihat dunia dengan segala realita dan dinamikanya. (*Sofan Kurniawan)

Editor : Sofan Kurniawan
Indonesian Students Movie Awards budha budaya borobudur trowulan mojokerto