Fotografer Mendur Bersaudara, Perekam Sejarah Bangsa

Sofan Kurniawan • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 18:56 WIB
Foto Mendur Bersaudara, diolah dan diperbaiki menggunakan aplikasi digital.
Foto Mendur Bersaudara, diolah dan diperbaiki menggunakan aplikasi digital.

Oleh: Sofanka

Pagi itu, 17 Agustus 1945, Jakarta diselimuti ketegangan yang pekat. Di sebuah rumah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, peristiwa bersejarah berlangsung. Di antara kerumunan tokoh pergerakan yang tegang menanti pembacaan teks proklamasi oleh Sukarno, dua pria sibuk dengan kamera analognya. Mereka adalah Frans Mendur dan Alex Mendur, dua Mendur ini adik kakak berasal dari Kawangkoan, Minahasa, yang kelak menjadi juru selamat visual sejarah republik ini.

Tanpa penugasan resmi dari kantor berita mana pun, hanya bermodal insting dan ilmu jurnalistik yang tajam. Mendur Bersaudara merekam setiap detik peritiwa bersejarah itu. Frans dengan kamera Leica-nya berhasil mengabadikan tiga momen paling sakral. Sukarno membacakan teks proklamasi, pengibaran bendera merah putih oleh Latief Hendraningrat dan Suhud, serta lautan manusia yang menyaksikan lahirnya sebuah bangsa baru. Di tempat lain, Alex juga sibuk membidikkan lensanya ke arah tokoh-tokoh penting yang hadir. Lewat kilatan blitz dan putaran film, mereka sedang merekam sejarah, menghentikan waktu melalui kamera, yang karyananya akan disaksikan oleh generasi yang akan datang. 

Namun, mendokumentasikan kemerdekaan di bawah bayang-bayang tentara Jepang adalah urusan nyawa. Tak lama setelah upacara selesai, tentara Kempeitai (polisi militer Jepang) memburu para fotografer. Alex tertangkap. Jepang merampas kameranya dan membakar seluruh negatif film hasil bidikannya hingga menjadi arang. Nasib beruntung berpihak pada Frans. Mendengar kabar sang kakak ditangkap, Frans segera memutar otak. Ia tahu, negatif film di dalam kameranya adalah satu-satunya bukti sah bahwa Indonesia telah merdeka. Jika benda itu hancur, proklamasi hanya akan dianggap sebagai mitos belaka.

Soekarno membacakan teks proklamasi kemerdekaan. Jumat 17 Agustus 1945 (Frans Mendur)
Soekarno membacakan teks proklamasi kemerdekaan. Jumat 17 Agustus 1945 (Frans Mendur)

Dengan tangan gemetar, Frans mengeluarkan gulungan negatif film tersebut dan menguburnya di dalam tanah, tepat di bawah sebuah pohon di halaman belakang kantor harian Asia Raya.
Saat tentara Jepang datang menginterogasinya, Frans berdalih dengan tenang. Ia mengaku bahwa negatif filmnya telah dirampas oleh barisan pelopor. Jepang percaya, dan Frans selamat.

Foto bersejarah itu tidak langsung meledak di halaman depan surat kabar keesokan harinya. Karya monumental Mendur Bersaudara terpaksa mengendap dalam kesunyian. Negatif film itu terus disembunyikan di bawah tanah, menunggu situasi Jakarta benar-benar aman dari patroli bersenjata Jepang dan ancaman sekutu.
Suasana saat pembacaan proklamasi di Jakarta 17 Agustus 1945 (Frans Mendur)
Suasana saat pembacaan proklamasi di Jakarta 17 Agustus 1945 (Frans Mendur)

Pada Februari 1946, sekitar enam bulan setelah peristiwa bersejarah itu, foto-foto proklamasi tersebut berhasil dicetak dan tampil perdana di halaman muka harian Merdeka. Publik terperangah. Masyarakat dunia akhirnya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Indonesia bukan lagi sekadar wilayah jajahan yang bermimpi, melainkan sebuah negara berdaulat yang telah berdiri tegak.

Berkat keberanian Mendur bersaudara, Proklamasi 17 Agustus 1945 tidak bertransformasi menjadi mitos. Tanpa foto-foto mereka, klaim kemerdekaan Indonesia mungkin akan rapuh di mata internasional. Dua bersaudara ini telah membuktikan bahwa terkadang, senjata tidak melulu senapan, melalui kamera, dua bersaudara ini membuktukan kepada dunia bahwa Indonesia telah merdeka. 
Editor : Sofan Kurniawan
radar monokerto radar majapahit jawapos.com