Menziarahi Ruang Kreatif Nasirun

Sofan Kurniawan • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 12:04 WIB
SANG MAESTO: Karya Nasirun dengan judul Kyai Nasirun tahun 2009.
SANG MAESTO: Karya Nasirun dengan judul Kyai Nasirun tahun 2009.

Oleh: Sofan Kurniawan

HARI ini, tepat genap tujuh hari dunia seni rupa Indonesia kehilangan salah satu episentrum estetiknya. Kepergian Nasirun Sabtu (1/8) lalu membuat perbincangan mendalam mengenai seni tradisi di tengah pusaran kebudayaan kontemporer saat ini.

Nasirun bukanlah sekadar pelukis, lebih dari itu ia adalah seorang penyemat simbol yang berhasil mengeksplorasi nilai-nilai dalam tradisi Jawa. Lahir di Cilacap 1 Oktober 1965, ia lalu menempa kemampuan estetiknya di Sekolah Menengah Seni Rupa di Yogyakarta lalu melanjutkan di jenjang yang lebih tinggi di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan menetap di Kota Gudeg pula. 

Nasirun tumbuh menjadi figur legendaris yang karyanya melanglang buana dari Asia Tenggara hingga Eropa dan Amerika Utara. Keunikan ontologis Nasirun terletak pada keteguhannya menyematkan ragam mitologi, wayang, dan spiritualitas ke dalam kanvas dan berbagai medium 3 dimensi. 

DIKENANG: Nasirun bersama Hetty Palestina, kurator asli Surabaya.
DIKENANG: Nasirun bersama Hetty Palestina, kurator asli Surabaya.

Proses kreatif nasirun layak "diziarahi" bagi para perupa maupun penikmat seni lainya. Ia menciptakan ruang hibrid di mana masa lalu yang mistis berdialog dengan kegelisahan manusia modern, terlihat dalam karya karyanya yang ekspresif, penuh simbol dan membawa siapa saja yang melihat bisa memasuki lorong spiritual, kebudayaan dan pemikiran yang mendalam.

Dalam perspektif kebudayaan kontemporer, realitas hari ini didominasi dan didikte algoritma media sosial (medsos) yang menjadikan seni hanya sekadar citra permukaan yang viral. Nasirun tidak mempedulikan itu. 

Sepanjang hidupnya, ia dikenal sebagai seniman yang memilih merdeka tanpa ketergantungan gawai pribadi atau tunduk pada algoritma dunia digital, singkatnya Nasirun tidak bermain medsos, bahkan pada sesi wawancara dengan Putut EA di channel YouTube Mojok.co dua tahun lalu, Putut bertanya "apa godaan tertinggi Anda dalam pencapaian dan popularitas saat ini?". Agak berpikir lama ia menjawab, jawaban Nasirun tak disangka-sangka. Ia menjawab "Bermain Tiktok" sambil terkekeh-kekeh.

MANUSIA MERDEKA: Potret Nasirun semasa hidup.
MANUSIA MERDEKA: Potret Nasirun semasa hidup.

Perupa besar Nasirun memilih jalan sunyi untuk tidak bermain medsos, tetapi karya-karyanya meledak di berbagai event seni, galeri dalam negeri maupun luar negeri. Proses kreatifnya menjadi percakapan di banyak kalangan.

Baginya, seni adalah sebuah tarekat, sebuah laku batin yang tidak dapat digantikan oleh reproduksi digital yang mekanis. Maka, wafatnya Nasirun pada usia 60 tahun di Yogyakarta menjadi sebuah kehilangan yang melampaui duka biologis. Ini adalah duka semiotis.

 

Kita kehilangan perisai kebudayaan yang selama ini gigih menolak pendangkalan makna seni. Guratan kuasnya yang liar namun penuh arti spiritual, serta humor selorohnya yang khas, kini telah bertransformasi menjadi tanda-tanda abadi yang tertinggal di galeri-galeri memori kita.

SENI RUPA: Salah satu karya lukisan Nasirun berjudul Indonesia Pusaka tahun 2011.
SENI RUPA: Salah satu karya lukisan Nasirun berjudul Indonesia Pusaka tahun 2011.
 
Kini jasadnya telah terpendam di Makam Seniman Girisapto, di atas bukit Imogiri, bersanding dengan para maestro pendahulunya. Namun energi yang ia tebarkan akan terus meregenerasi bagi perupa muda.

Tujuh hari tanpa Nasirun adalah ruang jeda bagi kita untuk merenung, apakah seni rupa kita akan terus tenggelam dalam visual yang dangkal, atau mampukah kita melanjutkan "tarekat" kesenian ala Nasirun?. Ia telah pulang ke Sang Pencipta Maha Estetik, meninggalkan kita dengan banyak karya, mengingatkan kita bahwa di balik gemerlap dunia, masih ada ruang spiritual yang harus terus dijaga agar manusia tidak kehilangan jiwanya. (*)

 

Editor : Rizal Amrulloh
Nasirun ISI Yogyakarta seni rupa