Salah satu karya yang menggambarkan pandangan Zawawi Imron terhadap Tanah Air adalah puisi “Indonesia Tanah Sajadah”.
Dalam puisi tersebut, Indonesia tidak hanya digambarkan sebagai wilayah tempat seseorang dilahirkan dan menjalani kehidupan. Tanah Air ditempatkan sebagai bagian yang begitu dekat dengan kehidupan manusia, bahkan dimaknai sebagai ruang spiritual untuk bersujud kepada Tuhan.
Berikut puisi “Indonesia Tanah Sajadah” karya D. Zawawi Imron:
Indonesia Tanah Sajadah
Oleh: D. Zawawi Imron
Sebelum kita lahir ke dunia ini
Rahmat Allah telah menjelma air susu di dada ibu
Lalu kita diturunkan
Pada sebidang tanah air
Yang membentang dari Aceh sampai Papua
Itulah Indonesia
Yang gunungnya biru berselendang awan
Ada hamparan padi menguning keemasan
Serta pohon kelapa yang melambai di tepi pantai
Indahnya tanah air kita
Sepotong sorga yang diturunkan Allah di bumi
Kita minum air Indonesia menjadi darah kita
Kita makan buah-buahan dan beras Indonesia menjadi daging kita
Kita menghirup udara Indonesia menjadi nafas kita
Kita bersujud di atas bumi Indonesia
Bumi Indonesia menjadi sajadah kita
Satu saat nanti kalau kita mati
Kita akan tidur dalam pelukan bumi Indonesia
Daging kita yang hancur
Akan menyatu dengan harumnya bumi Indonesia
Tanah air yang indah
Harus diurus dengan hati yang indah
Hati yang taqarrub kepada Allah
Kalau Indonesia ingin tetap indah
Harus diurus dengan akhlak yang indah
Tanah air adalah ibunda kita
Siapa mencintainya
Harus menanaminya dengan benih-benih kebaikan dan kemajuan
Agar Indonesia yang indah semakin damai dan indah
Tanah air adalah sajadah
Siapa mencintainya
Jangan mencipratinya dengan darah
Jangan mengisinya dengan fitnah, maksiat dan permusuhan
Tanah air Indonesia
Adalah sajadah
Tempat kita bersujud kepada Allah
Melalui “Indonesia Tanah Sajadah”, kecintaan terhadap Indonesia tidak sekadar diletakkan sebagai rasa memiliki terhadap sebuah negara. Indonesia dipandang sebagai tanah air yang memiliki nilai kehidupan sekaligus nilai spiritual, sehingga mencintainya berarti ikut merawat, menjaga, dan mengisinya dengan kebaikan. (*/ram)
Editor : Rizal Amrulloh