Cerita Panji, Warisan Asli Nusantara yang Mendunia

Rizal Amrulloh • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 11:23 WIB

 

WARISAN SEJARAH: Relief seorang laki-laki bertopi tekes yang diduga sebagai Raden Panji bersama seorang pengiringnya (kadeyan). Relief ini ditemukan di Jawa Timur dan berasal dari abad ke-14 Masehi. (Foto: Museum Nasional Indonesia)
WARISAN SEJARAH: Relief seorang laki-laki bertopi tekes yang diduga sebagai Raden Panji bersama seorang pengiringnya (kadeyan). Relief ini ditemukan di Jawa Timur dan berasal dari abad ke-14 Masehi. (Foto: Museum Nasional Indonesia)

RADAR MAJAPAHIT - Cerita Panji merupakan salah satu karya budaya yang berkembang dari Jawa Timur dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah Nusantara hingga mancanegara. Kisah yang berkembang sejak sekitar abad ke-12 Masehi ini tidak hanya dikenal di Jawa, tetapi juga Bali, Lombok, Sumatera, dan Sulawesi.

Dilansir dari Warta Museum Tahun XIII Museum Nasional Indonesia, penyebaran cerita Panji bahkan mencapai Thailand, Vietnam, Myanmar, Kamboja, hingga Semenanjung Melayu. Di wilayah-wilayah tersebut, kisah Panji kemudian diadaptasi dan digubah ke dalam berbagai bentuk seni sesuai dengan budaya masyarakat penerimanya.

Cerita yang pada awalnya berkembang secara lisan di Jawa Timur tersebut kemudian hadir dalam beragam bentuk, mulai dari seni rupa, sastra, hingga seni pertunjukan.

Secara umum, kisah Panji berpusat pada dua tokoh utama, yakni Raden Panji atau Kudawaningpati/Inu Kertapati dan Galuh Candrakirana atau Dewi Sekartaji.

Raden Panji digambarkan sebagai putra mahkota Kerajaan Jenggala. Sementara Galuh Candrakirana merupakan putri kerajaan Daha atau Kediri. Keduanya telah diperkenalkan oleh orang tua masing-masing sejak kecil.

Namun, dalam berbagai versi cerita, hubungan keduanya menghadapi beragam rintangan. Perjalanan tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam rangkaian kisah Panji yang sarat dengan nilai kepahlawanan, keberanian, keteguhan, dan kasih sayang.

Nilai kasih sayang dalam cerita Panji tidak hanya ditampilkan dalam hubungan antarmanusia, tetapi juga berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan.

Berangkat dari Sejarah Jawa Timur

Cerita Panji diyakini merupakan gubahan yang mengacu pada peristiwa, tokoh sejarah, dan kebudayaan yang berkembang di Jawa bagian Timur pada abad ke-12 Masehi.

Latar sejumlah cerita Panji juga menggunakan nama wilayah yang benar-benar dikenal dalam sejarah, seperti Jenggala, Kediri, Urawan, dan Gagelang.

Kisah tersebut kemudian berkembang seiring dengan tumbuhnya Kerajaan Majapahit. Nilai sejarah yang dibalut dalam bentuk fiksi membuat cerita Panji mudah diterima dan berkembang di tengah masyarakat.

Penyebarannya tidak berhenti di Jawa. Cerita Panji dikenal di Bali, Lombok, Sumatera, Semenanjung Melayu, Kamboja, Thailand, hingga Myanmar. Masyarakat di berbagai daerah kemudian mengadaptasinya dengan memasukkan unsur kearifan lokal masing-masing.

Cerita rakyat populer seperti Ande-Ande Lumut, Keong Emas, dan Golek Kencana juga diyakini memiliki keterkaitan sebagai turunan dari cerita Panji.

Keragaman bentuk dan media tersebut menjadi salah satu alasan kisah Panji mampu bertahan dan terus hidup di tengah masyarakat.

Atas nilai budaya dan kreativitas yang dikandungnya, Cerita Panji ditetapkan sebagai Memory of the World (MoW) UNESCO pada 31 Oktober 2017.

 

Jejak Panji di Relief Candi

Jejak cerita Panji juga dapat ditemukan pada relief sejumlah candi di Jawa Timur yang berasal dari abad ke-14 Masehi.

Relief tersebut antara lain dijumpai di Candi Miri Gambar, Candi Surawana, dan Candi Perwara Candi Tegowangi. Penggambaran cerita Panji juga ditemukan di sejumlah situs di Gunung Penanggungan, seperti Candi Wayang, Candi Gajah, Candi Kendalisada, dan Candi Selokelir.

Pada masa Majapahit, cerita Panji tidak selalu digambarkan secara lengkap dalam relief candi. Seniman pahat hanya menampilkan adegan-adegan tertentu yang dianggap penting atau dapat mewakili keseluruhan cerita.

Tokoh Panji dalam relief umumnya dapat dikenali melalui sosok ksatria dengan penutup kepala khas Panji, disertai sejumlah pengiring atau kadeyan yang juga dikenal sebagai punakawan.

Penggambaran tersebut menjadi salah satu jejak visual mengenai perkembangan cerita Panji pada masa Majapahit.

Istilah Panji Sudah Dikenal Sejak Kediri

Meski cerita Panji berkembang luas pada masa berikutnya, istilah “Panji” sendiri telah dikenal sejak periode Kerajaan Kediri.

Istilah tersebut pada awalnya merupakan nama gelar atau jabatan yang berkaitan dengan lingkungan istana. Sebutan itu mengacu kepada tokoh laki-laki dari kalangan ksatria, seperti raja, putra mahkota, pejabat tinggi kerajaan, kepala daerah, maupun pemimpin pasukan.

Penggunaan istilah “panji”, “apanji”, atau “mapanji” kemudian terus ditemukan hingga masa Singhasari dan Majapahit.

Salah satu bukti awal penggunaan istilah tersebut terdapat dalam Prasasti Banjaran 975 Saka atau 1053 Masehi dari periode awal Kediri. Prasasti yang masih berada di tempat asalnya atau in situ itu menyebut nama Raja Sri Mapanji Alanjung Ahyes.

Istilah tersebut juga ditemukan dalam Prasasti Hantang 1057 Saka atau 1135 Masehi dari masa Kadiri. Prasasti yang kini disimpan di Museum Nasional itu menyebut Raja Sri Maharaja Apanji Jayabhaya.

Sejumlah pejabat kerajaan dalam prasasti tersebut juga menggunakan gelar panji, antara lain Mapanji Kabandha, Mapanji Mandaha, dan Mapanji Daguna.

Penggunaan gelar serupa berlanjut pada masa Singhasari. Sejumlah pejabat tinggi kerajaan tercatat menggunakan gelar panji, seperti Rakryan Demung Mapanji Wipaksa dan Rakryan Kanuruhan Mapanji Anunda.

Kitab Pararaton juga mencatat sejumlah tokoh keturunan Ken Arok yang menggunakan nama panji, antara lain Panji Anengah atau nama lain Anusapati, Panji Saprang, dan Panji Tohjaya.

Naskah Panji dan Warisan yang Bertahan

Hingga kini, tidak ditemukan naskah Panji yang berasal langsung dari masa Majapahit. Naskah yang memuat cerita seperti Panji Asmorobangun dan Panji Semirang diketahui ditulis ulang jauh setelah periode Majapahit.

Salah satu naskah Panji tertua yang masih ada saat ini adalah Naskah Panji Anggraini (Angreni) dari Palembang, Sumatera Selatan.

Meski sebagian besar jejak awalnya hadir melalui tradisi lisan, relief, dan naskah yang ditulis pada periode berikutnya, cerita Panji tetap menunjukkan kemampuan masyarakat Nusantara dalam menciptakan, mengembangkan, dan mewariskan cerita melalui berbagai medium.

Perjalanan panjang tersebut membuat Panji tidak hanya menjadi cerita tentang Raden Panji dan Galuh Candrakirana. Kisah ini juga menjadi bagian dari warisan budaya yang merekam nilai, kreativitas, serta hubungan antarkebudayaan Nusantara dengan kawasan Asia Tenggara. (*/ram)

 

Editor : Rizal Amrulloh
Sumber : Warta Museum Tahun XIII, Museum Nasional Indonesia
Museum Nasional