
Dilansir dari Warta Museum Tahun XIII Museum Nasional Indonesia, penyebaran cerita Panji bahkan mencapai Thailand, Vietnam, Myanmar, Kamboja, hingga Semenanjung Melayu. Di wilayah-wilayah tersebut, kisah Panji kemudian diadaptasi dan digubah ke dalam berbagai bentuk seni sesuai dengan budaya masyarakat penerimanya.
Cerita yang pada awalnya berkembang secara lisan di Jawa Timur tersebut kemudian hadir dalam beragam bentuk, mulai dari seni rupa, sastra, hingga seni pertunjukan.
Secara umum, kisah Panji berpusat pada dua tokoh utama, yakni Raden Panji atau Kudawaningpati/Inu Kertapati dan Galuh Candrakirana atau Dewi Sekartaji.
Raden Panji digambarkan sebagai putra mahkota Kerajaan Jenggala. Sementara Galuh Candrakirana merupakan putri kerajaan Daha atau Kediri. Keduanya telah diperkenalkan oleh orang tua masing-masing sejak kecil.
Namun, dalam berbagai versi cerita, hubungan keduanya menghadapi beragam rintangan. Perjalanan tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam rangkaian kisah Panji yang sarat dengan nilai kepahlawanan, keberanian, keteguhan, dan kasih sayang.
Nilai kasih sayang dalam cerita Panji tidak hanya ditampilkan dalam hubungan antarmanusia, tetapi juga berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan.
Berangkat dari Sejarah Jawa Timur
Cerita Panji diyakini merupakan gubahan yang mengacu pada peristiwa, tokoh sejarah, dan kebudayaan yang berkembang di Jawa bagian Timur pada abad ke-12 Masehi.
Latar sejumlah cerita Panji juga menggunakan nama wilayah yang benar-benar dikenal dalam sejarah, seperti Jenggala, Kediri, Urawan, dan Gagelang.



