RADAR MAJAPAHIT – Menteri Kebudayaan (Menbud) RI Fadli Zon mendorong Himpunan Keluarga Maluku Utara (HIKMU) turut mengambil peran dalam memperkuat persaudaraan sekaligus memajukan kebudayaan Maluku Utara. Hal itu disampaikan Fadli Zon saat menghadiri pelantikan dan pengukuhan Pengurus HIKMU Periode 2026–2031, Sabtu (22/8).
Dalam kesempatan tersebut, Fadli Zon mengapresiasi keberadaan HIKMU sebagai wadah silaturahmi masyarakat Maluku Utara. Menurutnya, Maluku Utara memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang penting dalam perjalanan Nusantara.
Wilayah tersebut dikenal sebagai bagian dari kawasan Kepulauan Rempah yang sejak masa lalu menjadi penghubung Nusantara dengan berbagai negara. "Sejarah juga mencatat Maluku Utara sebagai the spice islands atau Kepulauan Rempah yang menghubungkan Nusantara dengan berbagai negara. Maluku Utara mempunyai aset-aset budaya dan peninggalan sejarah yang penting,” ungkapnya.
Kekayaan budaya tersebut antara lain tercermin melalui keberadaan Benteng Oranje, Benteng Kalamata, serta warisan Kesultanan Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan.
Selain peninggalan sejarah, Maluku Utara juga memiliki filosofi Moloku Kie Raha atau perserikatan empat kesultanan di Maluku, serta beragam adat dan bahasa yang masih hidup di tengah masyarakat.
Fadli menilai seluruh kekayaan tersebut merupakan modal budaya yang perlu dirawat, dikembangkan, dan diperkenalkan secara lebih luas.
Dorong Pemajuan Kebudayaan
Menbus menegaskan, pemajuan kebudayaan merupakan amanat konstitusi sebagaimana tercantum dalam Pasal 32 ayat (1) UUD 1945. Menurutnya, keberagaman budaya Indonesia menjadi kekuatan yang harus terus dijaga. Indonesia memiliki 1.340 etnis dan 718 bahasa yang tersebar di berbagai wilayah.
"Keberagaman kita saya sebut sebagai mega diversity, keberagaman dan kekayaan yang luar biasa. Karena itu, kehadiran Kementerian Kebudayaan diarahkan untuk memperkuat pemajuan kebudayaan secara menyeluruh,” katanya.
Dia juga menyampaikan bahwa Indonesia memiliki 2.727 warisan budaya takbenda dan 743 cagar budaya tingkat nasional.
Berbagai warisan tersebut, baik yang telah dikenal di tingkat dunia maupun yang belum dicatatkan secara global, dinilai sebagai modal budaya atau cultural capital yang perlu terus dimajukan.
Revitalisasi Situs Budaya Maluku Utara
Dalam kesempatan itu, Fadli Zon juga menyampaikan rencana revitalisasi sejumlah situs budaya di Maluku Utara. Melalui Direktorat Warisan Budaya, Kemenbud RI akan melakukan upaya revitalisasi terhadap sejumlah situs yang telah berstatus cagar budaya, termasuk di wilayah Ternate dan Tidore.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah jejak Alfred Wallace di Ternate. Menurut Fadli, jejak tersebut dapat dikembangkan sebagai bagian dari kekayaan sejarah dan pengetahuan yang dapat dikenalkan kepada masyarakat.
Fadli Zon berharap HIKMU dapat ikut mengambil bagian dalam upaya pemajuan kebudayaan, khususnya dalam menghidupkan dan mengembangkan nilai-nilai budaya Maluku Utara.
Organisasi tersebut juga didorong untuk ikut memperkuat regenerasi pelaku budaya serta meningkatkan peran masyarakat Maluku Utara sebagai pemangku kepentingan dalam menjaga tradisi dan kebudayaan. "Semoga amanah yang diberikan dapat dijalankan dengan penuh tanggung jawab, membawa HIKMU semakin maju. Semoga HIKMU terus tumbuh menjadi paguyuban yang solid, mempererat persaudaraan masyarakat Maluku Utara, dan juga ikut memajukan budaya Maluku Utara di Indonesia,” jelas Menbud.
Ketua Umum HIKMU Periode 2026–2031, Askan Naim, turut menekankan pentingnya sumber daya manusia dalam membangun Maluku Utara.
"Sebagai keluarga besar Maluku Utara, mari kita wujudkan kecintaan kepada tanah air dan tanah leluhur melalui karya, kepedulian, dan pengabdian yang nyata,” ucapnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda dan Sultan Jailolo Al-Hajj Kaicil Muhammad Siddik Sjah. (*/ram)
Editor : Rizal AmrullohSumber : Kemenbud RI