RADAR MAJAPAHIT – Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI mendorong generasi muda untuk mengembangkan potensi. Kalangan pelajar diajak untuk membuat film sekaligus menjadikan karya audiovisual sebagai sarana merekam kekayaan budaya dan memperkenalkan Indonesia kepada dunia.
Hal itu disampaikan Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon saat menghadiri puncak Cinema Awards Indonesian Students Movie Awards (ISMA) Vol X di Auditorium Dian Didaktika, Depok, Jawa Barat, Senin (24/8). Ajang ini diselenggarakan Yayasan Dian Didaktika dan mendapat dukungan Dana Indonesiana sebagai bagian dari upaya pemajuan kebudayaan. Program tersebut memberikan ruang bagi pelajar untuk menciptakan, mengembangkan, dan mempresentasikan karya film sekaligus menjadi wadah apresiasi terhadap kreativitas pelajar Indonesia.
Fadli Zon mengapresiasi konsistensi Lembaga Seni Budaya Dian Didaktika yang selama satu dekade menyelenggarakan ISMA sebagai ruang bagi pelajar untuk berkreasi, berekspresi, membangun jejaring, serta menumbuhkan kecintaan terhadap kebudayaan Indonesia. "Program ISMA sebagai kegiatan yang berkelanjutan selama 10 tahun merupakan satu prestasi tersendiri. Saya sampaikan apresiasi kepada Lembaga Seni Budaya Dian Didaktika yang konsisten melaksanakannya dan terus membangun ruang tumbuh bagi sineas pelajar Indonesia. Film memiliki kekuatan untuk merekam ingatan, menyampaikan gagasan, memperkenalkan identitas, serta menghadirkan beragam ekspresi dan pengalaman masyarakat Indonesia,” ungkapnya.
Himpun 1.000 Film Karya Pelajar
Selama satu dekade penyelenggaraannya, ISMA telah menghimpun lebih dari 1.000 film pelajar dari berbagai daerah di Indonesia. Sebagian besar karya yang dikumpulkan merupakan film pendek.
Pada penyelenggaraan tahun ini, ruang apresiasi tersebut diperluas melalui International Film Exhibition yang mempertemukan film dan sineas pelajar Indonesia dengan karya dari berbagai negara.
Ketua Umum Yayasan Dian Didaktika, Prabawati, menyebut ISMA 2026 menerima 186 film dari 140 sekolah yang tersebar di 20 provinsi. Dari seluruh karya tersebut, sebanyak 27 film berhasil masuk tahap final.
"ISMA telah menjadi ruang bagi pelajar untuk belajar, berekspresi, dan berkarya melalui film selama satu dekade sejak 2016. Tahun ini, ISMA mengangkat tema Depth of Potential, yang merefleksikan bahwa potensi sering kali tidak terlihat secara langsung. Potensi membutuhkan ruang, kesempatan, kepercayaan, pendampingan, serta keberanian untuk dapat tumbuh dan berkembang. Seni, film, dan kebudayaan merupakan ruang penting untuk menumbuhkan potensi sekaligus bagian dari fondasi masa depan Indonesia,” jelas Prabawati.
Menurut Fadli Zon, tema Depth of Potential memiliki keterkaitan dengan potensi talenta muda sekaligus kekayaan cerita yang dimiliki Indonesia.
Keberagaman budaya dan ekspresi masyarakat Indonesia dinilai menjadi modal penting untuk menghasilkan berbagai karya film. Pengembangan industri kreatif budaya juga disebut dapat menjadi bagian dari kekuatan lunak atau soft power Indonesia yang berkelanjutan.
Festival film pelajar turut dinilai penting dalam membangun regenerasi perfilman nasional. Melalui kegiatan tersebut, pelajar dapat mengenal proses penciptaan, produksi, hingga apresiasi karya film.
Ruang seperti ISMA juga menjadi sarana bagi generasi muda untuk belajar melihat, berpikir, mencipta, dan bercerita. Pengembangan talenta tersebut membutuhkan ekosistem yang berkelanjutan, termasuk melalui kompetisi dan festival film pelajar.
Menutup sambutannya, Fadli Zon kembali mendorong para pelajar untuk terus mengembangkan kemampuan dan menggunakan film sebagai medium untuk menyampaikan gagasan serta kekayaan budaya Indonesia, termasuk mendokumentasikan situs-situs cagar budaya. "Mari terus membuka ruang bagi generasi muda untuk melihat, berpikir, mencipta, dan bercerita. Gali potensi kalian, temukan perspektif, dan ceritakan Indonesia kepada dunia,” pungkas Menbud. (*/ram)
Editor : Rizal AmrullohSumber : Kemenbud RI