Enam Lapisan Peradaban Ditemukan di Sumur Upas

Yulianto Adi Nugroho • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 20:00 WIB
JEJAK SINGGASANA: Menbud RI Fadli Zon menunjukkan struktur batu bata yang terdapat di Situs Sumur Upas-Candi Kedaton, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (Foto: Kemenbud RI)
JEJAK SINGGASANA: Menbud RI Fadli Zon menunjukkan struktur batu bata yang terdapat di Situs Sumur Upas-Candi Kedaton, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (Foto: Kemenbud RI)

RADAR MAJAPAHIT - Situs Sumur Upas-Candi Kedaton di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, diyakini telah dihuni jauh sebelum Kerajaan Majapahit berdiri. Hasil ekskavasi di kawasan tersebut menunjukkan sedikitnya terdapat enam lapisan peradaban yang tersimpan di bawah permukaan tanah.

Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menyebutkan, temuan tersebut memperlihatkan bahwa kawasan yang disebut sebagai salah satu titik penting peradaban Majapahit itu telah digunakan secara berkelanjutan dari masa ke masa. ”Di situs Sumur Upas Sentonorejo ini ditemukan enam lapisan peradaban di dalam tanah yang membuktikan tempat ini telah digunakan secara berkelanjutan dari waktu ke waktu,” kata Fadli Zon saat meninjau Situs Sumur Upas, Minggu (13/9). 

Menurutnya, Situs Sumur Upas dan sejumlah situs lain di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Trowulan tidak dapat dilihat hanya sebagai kumpulan bangunan kuno. Kawasan tersebut merupakan bagian dari lanskap perkotaan yang menunjukkan perkembangan peradaban Majapahit.

Jejaknya terlihat dari keberadaan candi, gapura, permukiman, berbagai artefak, hingga waduk, kolam, dan jaringan kanal kuno yang membentang hingga puluhan kilometer.

Jejak Peradaban Sebelum Majapahit

Temuan di Sentonorejo memperkuat penelitian mengenai keberadaan aktivitas manusia di Trowulan sebelum masa Majapahit.

Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah (PRAPS) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yusmaini Eriawati mengatakan, penelitian terhadap sejumlah situs kuno di Trowulan menunjukkan adanya sisa-sisa peradaban dari masa yang jauh lebih awal.

Salah satu contohnya ditemukan di kawasan Candi Brahu, Desa Bejijong. Peneliti menemukan keramik dan prasasti Empu Sindok yang berasal dari abad ke-10 atau masa Mataram Kuno.

Selain tinggalan dari masa Mataram Kuno, di kawasan tersebut juga ditemukan artefak yang berasal dari masa Kerajaan Singasari pada abad ke-13 hingga peninggalan dari periode Majapahit. ”Jadi tempat itu digunakan berkali-kali sampai sudah seribu tahun lamanya,” tuturnya dalam Webinar Forum Kebhinnekaan Seri #37 bertajuk Wawasan Baru di Metropolitan Majapahit, Selasa (15/7).

Petunjuk mengenai keberadaan permukiman kuno juga ditemukan melalui ekskavasi di Situs Grogol, Dusun Grogol, Desa Dukuhngarjo, Kecamatan Jatirejo. Di situs yang diyakini sebagai sisa permukiman kaum bangsawan tersebut, peneliti menemukan lapisan keramik dari tiga periode berbeda di bawah permukaan tanah.

Lapisan paling bawah menunjukkan keramik dari sekitar abad ke-10. Lapisan tersebut kemudian bertumpuk dengan keramik khas abad ke-11 dan ke-12, sementara lapisan paling atas berisi keramik dari era Majapahit.

Temuan berlapis tersebut memberikan petunjuk mengenai adanya aktivitas manusia yang berlangsung dalam rentang waktu panjang di kawasan Trowulan dan sekitarnya. ”Itu memberi keyakinan Situs Trowulan sudah dihuni jauh-jauh sebelum Majapahit,” imbuh Wati, panggilan karib Yusmaini.

Berbagai temuan tersebut menjadi bagian penting dalam penelitian untuk memahami sejarah kawasan Trowulan secara lebih utuh. Tidak hanya sebagai pusat Kerajaan Majapahit, kawasan ini juga menyimpan jejak aktivitas dan perkembangan masyarakat dari periode yang lebih awal. (adi/ris)

Editor : Rizal Amrulloh
Sumber : Kemenbud RI
Kemenbud RI situs sumur upas trowulan mojokerto fadli zon