Temuan tersebut dilengkapi sistem tata kelola air dan infrastruktur yang menunjukkan kemajuan teknologi pada masanya.
Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menyampaikan hal tersebut saat meninjau Situs Sumur Upas, Minggu (13/9). ”Berdasarkan hasil pemetaan LiDAR dan ekskavasi, wilayah Sentonorejo ini merupakan titik nol kota raja Majapahit dengan infrastruktur yang sudah sangat modern,” ungkapnya.
LiDAR merupakan metode pemetaan tiga dimensi yang memanfaatkan sinar laser untuk membaca kontur permukaan bumi. Teknologi ini memungkinkan bentuk permukaan tanah hingga struktur yang berada di bawahnya dipetakan dan dianalisis.
Menurut Fadli Zon, hasil analisis LiDAR dan ekskavasi terkini mengindikasikan kawasan Situs Sumur Upas atau Candi Kedaton sebagai pusat kedaton, yakni kawasan kota raja, sekaligus salah satu titik penting dalam peradaban Majapahit.
Indikasi tersebut diperkuat dengan temuan struktur hunian elite serta tata ruang kawasan yang menunjukkan tingkat pengelolaan infrastruktur yang maju. Sejumlah tinggalan yang ditemukan antara lain sistem petirtaan, saluran pengairan, terakota, batu bata, hingga plesteran kapur.
Temuan arkeologis itu juga disebut memiliki kesesuaian dengan gambaran tata ruang yang tercatat dalam Kakawin Nagarakretagama Pupuh 8 karya Empu Prapanca serta naskah perjalanan Bujangga Manik.
Fadli Zon menuturkan, Situs Sumur Upas atau Candi Kedaton merupakan bagian penting dari kawasan kota kuno Majapahit. Kawasan tersebut menyimpan jejak kehidupan sekaligus perkembangan peradaban masyarakat pada masa lampau.
”Situs Sumur Upas-Candi Kedaton kemungkinan merupakan bagian dari kompleks peribadatan bagi kalangan elite Majapahit. Kawasan ini dapat menggambarkan salah satu bagian suci dari keraton,” tandas Menbud.
Keberadaan berbagai struktur dan sistem infrastruktur tersebut menjadi bagian dari penelitian untuk memahami lebih jauh tata ruang serta kehidupan masyarakat di pusat Kerajaan Majapahit.
Pemanfaatan teknologi pemetaan modern seperti LiDAR juga membuka peluang untuk mengidentifikasi struktur arkeologis yang masih tersimpan di bawah permukaan tanah. Data tersebut selanjutnya dapat menjadi bahan pendukung dalam penelitian dan upaya pelestarian kawasan bersejarah Trowulan. (adi/ris)
Editor : Rizal AmrullohSumber : Kemenbud RI