RADAR MAJAPAHIT - Menteri Kebudayaan (Menbud) RI Fadli Zon melakukan ziarah sekaligus peninjauan ke Petilasan Raden Wijaya di kompleks Siti Inggil, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Minggu (13/9). Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat kondisi dan kelestarian situs yang berkaitan dengan pendiri Kerajaan Majapahit.
Dalam kesempatan itu, Fadli Zon juga mendorong agar berbagai situs bersejarah di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Trowulan dikembangkan dalam satu ekosistem wisata budaya yang saling terintegrasi.
Di kompleks Siti Inggil, Menbud menjelaskan bahwa nama Siti Inggil berasal dari kata siti yang berarti tanah dan hinggil yang berarti tinggi. Secara tradisi, kawasan tersebut diyakini sebagai tempat moksa Raden Wijaya bersama permaisuri dan keluarganya.
Kompleks punden berundak tersebut juga dikaitkan dengan Dara Peta, Dara Jingga, Garwa Padmi Gayatri, serta Abdi Kinasih. Struktur Siti Inggil telah direvitalisasi sejak 1976 dan hingga kini tetap menjadi salah satu lokasi yang memiliki nilai historis dan spiritual bagi masyarakat.
"Saya berziarah di Petilasan Raden Wijaya beserta istri-istrinya di Siti Inggil. Strukturnya merupakan struktur asli yang telah direvitalisasi sejak tahun 1976. Menurut sejarah, di sinilah tempat pendiri Kerajaan Majapahit moksa, dan situs ini selalu menjadi tujuan ziarah serta kunjungan tokoh-tokoh masyarakat,” ujar Fadli Zon.
Dalam dialog bersama juru kunci Petilasan Raden Wijaya dan Kepala Desa Bejijong Pradana Tera Mardiatna, Fadli Zon mengapresiasi keterlibatan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam mengembangkan potensi desa sebagai bagian dari kawasan cagar budaya.
Menurutnya, keberadaan fasilitas pendukung seperti sekitar 50 homestay di Desa Bejijong menunjukkan bahwa pelestarian situs sejarah dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi masyarakat. "Kita sedang membangun dan merevitalisasi Museum Majapahit. Nantinya situs-situs bersejarah ini bisa saling terkoneksi menjadi satu ekosistem terpadu, mulai dari wisata budaya, wisata religi, wisata sejarah, hingga wisata kuliner. Dukungan seperti keberadaan 50 homestay di Desa Bejijong ini menjadi bagian penting dari keberlanjutan ekosistem tersebut,” terang Fadli Zon.
Pengembangan kawasan, lanjutnya, tidak hanya diarahkan pada pemeliharaan fisik situs. Keterhubungan antar-objek sejarah juga diharapkan dapat menciptakan pengalaman wisata yang lebih utuh sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan.
Jejak Pendiri Majapahit
Raden Wijaya merupakan pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Majapahit. Ia memerintah dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana pada 1293–1309 M.
Dalam catatan sejarah yang terdapat dalam Pararaton dan Nagarakretagama, Raden Wijaya mendirikan Majapahit setelah memanfaatkan aliansi dengan pasukan Mongol untuk mengalahkan Jayakatwang dari Kediri. Setelah itu, ia berhasil mengusir pasukan Mongol dari Jawa pada 1293.
Raden Wijaya wafat pada 1309 M. Setelah kematiannya, sejumlah bangunan candi kemudian dikaitkan dengan pendharmaannya.
Keberadaan Petilasan Raden Wijaya di Siti Inggil menjadi bagian dari rangkaian situs sejarah yang memperkuat identitas Trowulan sebagai kawasan yang menyimpan jejak penting peradaban Majapahit.
Kemenbud menyatakan komitmennya untuk memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan masyarakat dalam pengelolaan situs bersejarah secara berkelanjutan.
Melalui kolaborasi tersebut, warisan peradaban Majapahit diharapkan tidak hanya tetap terjaga keaslian dan nilai sejarahnya, tetapi juga mampu menjadi bagian dari pengembangan wisata budaya sekaligus memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. (*/ram)
Editor : Rizal AmrullohSumber : Kemenbud RI