PENDIDIKAN di masa Kerajaan Majapahit tak terbatas pada pelajaran membaca, menulis, dan berhitung. Peradaban masyarakat Majapahit juga ditopang sekolah kadewaguruan yang mengajarkan ilmu agama, politik, kesenian, hingga keterampilan tata boga.
Kadewaguruan yang juga dikenal dengan nama mandala dipimpin seorang Maharesi atau Dewaguru. Kompleks pendidikan ini menjadi wadah masyarakat memperdalam ilmu agama.
”Sejak lama di Jawa sudah ada yang namanya kadewaguruan, yaitu tempat belajar agama Siwa,” kata pemerhati sejarah Asisi Suhariyanto di kanal Youtube ASISI Channel.
Tak ada catatan pasti sejak kapan kadewaguruan eksis. Hanya saja, berdasarkan sumber sejarah, konsep pendidikan ini diperkirakan sudah muncul pada era Mataram Kuno antara abad ke-8 hingga ke-9 Masehi.
Keberadaan sekolah ini misalnya, terlacak melalui relief tiga resi atau pendeta yang membawa lontar sebagai representasi kitab di Candi Morangan, Sleman, Yogyakarta.
Adapun di dinding Candi Kedulan, Sleman, terdapat figur memegang lontar duduk di bawah arca Resi Agastya.
”Agastya sendiri terkenal sebagai pengajar agama Siwa, otomatis yang di bawah itu kemungkinan siswanya,” imbuh dia.
Keberadaan kadewaguruan kelak makin marak di masa Kerajaan Majapahit. Asisi mengungkapkan, tak hanya semakin mudah ditemukan, ilmu yang diajarkan juga beragam.
Selain agama, masyarakat bisa belajar ilmu praktis dan terapan di kadewaguruan. ”Karena makin banyak minat masyarakat yang begitu tinggi, ada yang namanya penjurusan,” tuturnya.
Kitab Tantu Panggelaran mencatat adanya pendidikan politik untuk mempersiapkan siswa menjadi pemimpin.
Ada pula pelajar ulu kembang pakalpan yang mengajarkan urusan bunga untuk sesaji, keterampilan mengurus rumah atau puamah, pengurus manusia atau pajanan, pengurus masakan atau atanet, pemukul gong, pengumpul akar-akaran untuk jamu dan medis, serta tukang melagukan kakawin.
”Kemudian ada kabayan panglayar yang merupakan penjaga bahaya di lingkungan pelayaran,” tandas Asisi. (adi/ris)
Editor : Martda Vadetya