Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Daluang, Kertas Ajaib yang Menyerap Doa dan Pengetahuan Majapahit

Imron Arlado • Rabu, 5 November 2025 | 02:15 WIB

Bentuk daluang
Bentuk daluang

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Di dalam sebuah ruangan ber-AC di Balai Pelestarian Naskah Kuno Yogyakarta, terdapat lembaran berwarna gading yang tampak rapuh, tetapi menyimpan warisan sejarah yang sangat kuat. 

Lembaran itu disebut daluang, kertas kuno dari kulit pohon Broussonetia papyrifera, atau dikenal masyarakat Majapahit sebagai pohon saeh.

Majapahit mengenal dua tipe utama media tulisan, yaitu daun lontar dan daluang. Namun, daluang memiliki kedudukan lebih sakral. 

Daluang dihasilkan dari kulit kayu muda yang dipukul lembut hingga seratnya saling mengikat dan kemudian dijemur di bawah sinar matahari agar warnanya tetap lembut.

 

Proses ini dilakukan di tepi sungai, tempat air mengalirkan energi kehidupan. Bagi masyarakat Majapahit, air tidak hanya dianggap sebagai unsur alam, tetapi juga sebagai penghubung antara manusia dan kekuatan alam semesta. 

 

Baca Juga: Begini Tegasnya Majapahit Menghukum Koruptor dan Pelanggar Hukum Lainnya

 

Pemilihan daluang juga memiliki alasan praktis. Pada masa itu, kertas dari Tiongkok sulit didapat dan harganya tinggi. Namun, lebih dari sekadar solusi bahan, daluang dipercaya memiliki daya magis alami.

Dalam ritual tertentu, para brahmana menuliskan tanda pelindung atau doa untuk menghindari malapetaka di atas daluang, karena diyakini dapat menyerap makna dari tulisan dan menyimpannya dalam serat kayunya.  

Proses pembuatan daluang pun menyerupai ritual. Setelah kulit kayu direndam semalaman di sungai, pengrajin memukulnya berulang kali dengan alat dari kayu hingga menjadi lembaran tipis. 

Lalu dijemur perlahan, dihaluskan dengan batu sungai, dan siap digunakan. Hasil akhirnya adalah kertas yang ringan, fleksibel, tetapi dapat bertahan selama ratusan tahun. 

 

Baca Juga: Jejak Lima Raja Majapahit dengan Masa Pemerintahan Terpanjang

 

Daluang mengajarkan satu hal yang abadi, bahwa tulisan adalah perpanjangan jiwa, dan setiap serat kayu yang menyimpannya adalah saksi bisu peradaban yang besar. 

Di balik setiap goresan tinta di atas kulit pohon tersebut, masih ada napas yang menggema dari masa lalu, napas Majapahit, yang menulis dengan perasaan, bukan hanya dengan tangan. (Tri Yulia Setyoningrum/Wulandari)

 

Editor : Martda Vadetya
#Daluang #majapahit #warisan budaya #trowulan #naskah kuno