MOJOKERTO-Di tengah kawasan peninggalan Majapahit di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Candi Gentong menyimpan jejak penting kehidupan keagamaan Buddha masa lalu. Berada di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, situs ini terdiri atas Candi Gentong I dan II. Struktur bata serta temuan stupika, fragmen arca Buddha, dan tata ruang berbentuk mandala stupa memperkuat dugaan bahwa tempat ini berkaitan erat dengan praktik Buddhisme pada masa Majapahit.
Nama Gentong berasal dari masyarakat yang melihat bentuk reruntuhannya menyerupai gentong. Keberadaannya telah dicatat sejak laporan J.W.B. Wardenaar pada 1815. Penelitian arkeologis pada 1990-an menemukan sejumlah stupika dan fragmen arca Buddha.
Pengujian terhadap arang dari situs tersebut menghasilkan pertanggalan sekitar 1470 ± 100 M, yang menunjukkan keterkaitannya dengan periode Majapahit. Setelah lama menjadi reruntuhan dan tertutup tanah, Candi Gentong dipugar secara bertahap sejak 1990-an hingga 2004. Pemugaran itu membuat jejak struktur dan fungsi keagamaannya kembali dapat dipahami.
Kini, Candi Gentong memasuki babak baru. Menurut Biksu Nyana Sila Thera atau Bhante Sila pimpinan Vihara Tantular Sugara Wilwatikta Budhayana Center Mojokerto menuturkan,
umat Buddha Mojokerto dalam dua tahun terakhir mulai menggelar ibadah Waisak di tempat tersebut. Pada Waisak 2570 Buddhist Era (BE), Mei 2026, puja bakti kembali dilaksanakan.
“Puja Bakti yang dilakukan di Candi Gentong ini merupakan kali kedua yang dilaksanakan oleh umat Buddha Mojokerto. Kegiatan ibadah di candi peninggalan era Majapahit ini sengaja dilakukan untuk menghidupkan kembali ritus keagamaan dan menyambung akar sejarah, khususnya di Mojokerto. Umat Buddha Mojokerto mempunyai sejarah besar pada kejayaan Majapahit,” tutur Bhante Sila.
Puja bakti tersebut bukan sekadar kegiatan keagamaan. Ia menjadi upaya menyambung kembali ingatan tentang keberadaan Buddhisme di tanah Majapahit. Candi Gentong memang tidak dikembalikan secara fisik menjadi bangunan seperti masa lalu, tetapi melalui ritus Waisak, situs ini kembali dihayati sebagai ruang spiritual.
Bata-bata tua Candi Gentong akhirnya tidak hanya bercerita tentang masa yang telah runtuh. Ia juga menjadi pengingat bahwa sejarah dapat terus hidup ketika generasi hari ini bersedia merawat, memahami, dan menghidupkan kembali maknanya. Candi Gentong menjadi titik temu antara warisan Majapahit, sejarah Buddhisme, dan kehidupan umat Buddha Mojokerto masa kini. (*Sofan Kurniawan)
Editor : Sofan Kurniawan