Situs Ratu Boko Simbol Toleransi Hindu-Buddha, Ini Alasannya

Rizal Amrulloh • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:29 WIB
ISTANA KUNO: Keraton atau Situs Ratu Boko yang dibangun abad ke-8 Masehi di Kabupaten Sleman, DIY. (Foto: Museum dan Cagar Budaya Kemenbud RI)
ISTANA KUNO: Keraton atau Situs Ratu Boko yang dibangun abad ke-8 Masehi di Kabupaten Sleman, DIY. (Foto: Museum dan Cagar Budaya Kemenbud RI)

RADAR MAJAPAHIT – Situs Ratu Boko di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), merupakan kawasan arkeologi yang memiliki karakter unik. Kompleks tersebut memperlihatkan perpaduan antara bangunan yang memiliki karakter istana kerajaan dan struktur yang berkaitan dengan kegiatan religius.

Mengutip laman Museum dan Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI, Situs Ratu Boko diperkirakan dibangun pada abad ke-8 Masehi berdasarkan prasasti yang ditemukan di kawasan tersebut. Pembangunannya dikaitkan dengan Wangsa Sailendra atau Mataram Kuno.

Kompleks Ratu Boko berada di kawasan perbukitan Sleman. Berbagai struktur bangunan yang masih menjadi bagian dari situs menunjukkan adanya perencanaan kawasan dengan fungsi yang beragam.

Secara umum, kompleks tersebut terbagi dalam lima kelompok utama, yakni Gapura Utama, Paseban, Keputren, Pendapa, dan Gua. Masing-masing bagian memiliki karakteristik arsitektur serta fungsi yang berbeda.

Paseban merupakan area pertemuan, sedangkan Keputren menjadi kompleks yang berkaitan dengan area wanita. Sementara itu, Pendapa berfungsi sebagai aula. Di kawasan ini juga terdapat sejumlah gua, termasuk Gua Lanang dan Gua Wadon.

Selain bangunan utama, kompleks Ratu Boko dilengkapi berbagai struktur pendukung, seperti batur, kolam dan pagar. Keberadaan berbagai elemen tersebut menunjukkan kemahiran teknik pembangunan pada masa itu.

Salah satu keunikan Situs Ratu Boko adalah adanya perpaduan unsur Hindu dan Buddha yang terlihat melalui relief maupun struktur bangunannya. Perpaduan tersebut menjadi bagian penting dari karakter kawasan Ratu Boko.

Keberadaan unsur dari dua tradisi keagamaan tersebut juga menggambarkan adanya toleransi beragama pada masa lalu. Kompleks Ratu Boko dengan demikian tidak hanya menyimpan tinggalan arkeologis, tetapi juga memperlihatkan dinamika kehidupan keagamaan dan kebudayaan masyarakat pada zamannya.

Dengan karakter arsitektur yang memadukan unsur istana dan struktur religius serta keberadaan unsur Hindu-Buddha, Situs Ratu Boko menjadi salah satu kawasan cagar budaya yang memperlihatkan kekayaan sejarah dan kebudayaan masa Mataram Kuno. (*/ram)

Editor : Rizal Amrulloh
Sumber : Museum dan Cagar Budaya Kemenbud RI
Kemenbud RI Museum dan Cagar Budaya Istana Kerajaan