RADAR MAJAPAHIT — Di antara kemegahan Candi Borobudur dan Candi Mendut di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, berdiri Candi Pawon yang menyimpan jejak penting perkembangan Buddhisme pada masa Jawa Kuno. Bangunan candi ini tidak hanya menarik dari sisi arsitektur, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan kompleks ritual Borobudur.
Candi Pawon berada di Dusun Brojonalan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Letaknya sekitar 1,75 kilometer di sebelah timur Candi Borobudur dan 1,15 kilometer di sebelah barat Candi Mendut.
Berdasarkan informasi resmi Balai Konservasi Borobudur, Candi Pawon merupakan salah satu candi Buddha yang diperkirakan dibangun pada masa Dinasti Syailendra antara abad VIII hingga IX Masehi. Namun, waktu pembangunan secara pasti belum diketahui karena belum ditemukan data yang cukup kuat.
“Bangunan pemujaan ini termasuk salah satu Candi Buddha yang diperkirakan didirikan oleh Dinasti Syalendra antara abad VIII – IX Masehi,” demikian keterangan Balai Konservasi Borobudur dalam laman resmi Kementerian Kebudayaan RI.
Sejumlah tafsiran mengenai fungsi Candi Pawon juga berkembang. Epigraf J.G. de Casparis mengaitkan candi tersebut dengan Raja Indra, ayah Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra. Menurut tafsiran tersebut, Candi Pawon diduga berkaitan dengan tempat penyimpanan abu jenazah Raja Indra yang berkuasa sekitar 782–812 Masehi.
Nama “Pawon” sendiri juga memiliki tafsiran tersendiri. De Casparis menghubungkannya dengan kata Jawa “awu” yang berarti abu, dengan tambahan awalan pa- dan akhiran -an yang menunjukkan suatu tempat. Dengan demikian, Pawon ditafsirkan sebagai tempat abu atau perabuan.
“Menurut Casparis, Candi Pawon merupakan tempat penyimpanan abu jenazah Raja Indra (782 – 812 M), ayah Raja Samarrattungga dari Dinasti Syailendra,” tulis Balai Konservasi Borobudur.
Candi Pawon juga dikenal masyarakat setempat dengan nama Brajanalan. Nama tersebut dikaitkan dengan lokasi candi di Dusun Brojonalan dan kemungkinan berasal dari bahasa Sanskerta vajra yang berarti halilintar dan anala yang berarti api.
Keterkaitan Pawon dengan Borobudur semakin menarik ketika melihat pendapat Prof. Dr. R.M. Poerbatjaraka. Ia menilai Candi Pawon merupakan bagian pendukung dari Candi Borobudur atau upa angga.
Pandangan tersebut memperkuat dugaan bahwa Pawon, Mendut, dan Borobudur memiliki hubungan fungsional dalam sebuah rangkaian keagamaan. “Menurut Prof. Dr. R.M Poerbatjaraka, Candi Pawon ini adalah Upa Angga, artinya bagian dari Candi Borobudur, seperti pawon bagian dari rumah,” demikian keterangan Balai Konservasi Borobudur.
Secara arsitektural, Candi Pawon memiliki bentuk yang relatif ramping dibandingkan Candi Borobudur. Bangunan yang terbuat dari batu andesit tersebut berbentuk bujur sangkar dengan panjang sisi sekitar 10 meter dan tinggi 13,3 meter. Candi menghadap ke barat dan memiliki satu bilik.
Struktur bangunannya terbagi menjadi tiga bagian utama, yakni kaki, tubuh, dan atap. Bagian kaki dihiasi ornamen bunga serta sulur-suluran. Tubuh candi memiliki hiasan arca Bodhisattva, sedangkan bagian atap dihiasi stupa-stupa kecil dengan sebuah stupa berukuran lebih besar di puncaknya.
Keunikan lainnya terdapat pada relief yang menghiasi dinding candi. Di bagian depan, tepat di atas pintu masuk, terdapat relief Kuwera yang dikenal sebagai dewa kekayaan. Sementara pada dinding utara dan selatan terdapat relief Kinara dan Kinari, makhluk berkepala manusia dan berbadan burung yang digambarkan mengapit pohon kalpataru yang tumbuh dalam sebuah jambangan.
Relief tersebut juga menampilkan sejumlah pundi-pundi uang di sekitar pohon kalpataru. Pada bagian atas dinding terdapat jendela-jendela kecil yang berfungsi sebagai ventilasi. Balai Konservasi Borobudur menyebut relief Candi Pawon bersifat dekoratif dan tidak menampilkan relief cerita.
Keterhubungan Candi Pawon dengan Candi Borobudur dan Mendut bukan sekadar dugaan mengenai fungsi bangunan.
Ketiganya juga berada dalam satu kesatuan kawasan warisan budaya. Balai Konservasi Borobudur mencatat Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon sebagai bagian dari Borobudur Temple Compounds yang ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia pada 1991.
Hingga kini, Candi Pawon tetap menjadi bagian penting dari lanskap budaya Borobudur. Selain nilai sejarah dan arsitekturnya, candi tersebut juga masih dapat dimanfaatkan untuk kepentingan keagamaan dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. Pemerintah mencatat Candi Borobudur, Mendut, dan Pawon dapat dimanfaatkan untuk kepentingan keagamaan, termasuk oleh umat Buddha.
Candi Pawon pada akhirnya tidak hanya menjadi bangunan batu peninggalan masa lalu. Letaknya di antara Mendut dan Borobudur, jejak simbolisme Buddhis, serta tafsiran para ahli mengenai fungsinya menjadikan candi ini bagian penting untuk memahami bagaimana ruang keagamaan dan kebudayaan dibangun pada masa Jawa Kuno. (*/ram)
Sumber : Kemenbud RI