Dari Generasi Kekinian, Ludruk Dibawa dari Masa Lalu Menuju Masa Depan

Sofan Kurniawan • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 13:27 WIB
LAKON: Fragmen Lakon, berjudul Joko Sambang Pendekar Gunung Gangsir yang dimainkan Ludruk Karya Persada di Taman Budaya Jawa Timur Surabaya Sabtu (05/9) kemarin. (Foto: Dona for Radar Majapahit)
LAKON: Fragmen Lakon, berjudul Joko Sambang Pendekar Gunung Gangsir yang dimainkan Ludruk Karya Persada di Taman Budaya Jawa Timur Surabaya Sabtu (05/9) kemarin. (Foto: Dona for Radar Majapahit)

Anak-anak mungkin belum memahami sejarah ludruk, tari remo, kidungan, atau gending jula-juli. Namun, mereka tahu bermain itu menyenangkan.

Di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, akhir pekan lalu (5-6 September), anak-anak diajak bermain sekaligus mengenal seni tradisi. Festival Cak Durasim 2026 menunjukkan bahwa tradisi tetap hidup ketika terus dimainkan.

Penggagas festival, Heri Lento Prasetyo, mengatakan keterlibatan anak-anak sengaja dimulai sejak awal agar mereka mengalami tradisi secara langsung.

Festival yang diprakarsai Yayasan Surabaya Juang Indonesia itu merupakan bagian dari program Pemanfaatan Ruang Publik Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

BEDAYAN: Satu Fragmen Tari Bedayan yang dibawan penari Ludruk Karya Persada,  di festival Cak Durasim di Taman Budaya Jawa Timur Surabaya Sabtu (5/9) kemarin. (Foto: Dona for Radar Majapahit)
BEDAYAN: Satu Fragmen Tari Bedayan yang dibawan penari Ludruk Karya Persada, di festival Cak Durasim di Taman Budaya Jawa Timur Surabaya Sabtu (5/9) kemarin. (Foto: Dona for Radar Majapahit)

Tahun ini, Jombang, Mojokerto, dan Surabaya bertemu di Gedung Cak Durasim, membawa cara masing-masing dalam merawat ludruk. Seniman senior, komunitas, pelajar, dan mahasiswa bertemu dalam satu ruang pertunjukan.

Ketika Lakon Menemukan Generasi Baru

Dari Mojokerto, Ludruk Karya Persada membawa “Joko Sambang – Pendekar Gunung Gangsir” arahan Kukun Tri Yoga.

Lakon ini bercerita tentang rakyat yang menghadapi tekanan kolonial Belanda, sekaligus tanggung jawab generasi muda terhadap lingkungan sosial dan bangsa.

Pemainnya beragam, dari anak sekolah dasar hingga dosen. Di panggung, pewarisan berlangsung lewat dialog: anak-anak belajar dari senior, sementara para senior berhadapan dengan cara belajar generasi baru.

Bagi Kukun, proses itu sama pentingnya dengan pertunjukan. Anak-anak belajar memainkan tokoh sekaligus merasakan ludruk sebagai permainan yang menyenangkan.

Bedayan, remo, kidungan, dan gending jula-juli hadir bukan sebagai benda museum, melainkan unsur hidup di antara tubuh-tubuh baru.

LAKON: Fragmen Lakon berjudul Joko Sambang Pendekar Hunung Gansir yang dibawakan Ludruk Karya Persada d Festival Cak Durasim 2026 di Taman Budaya Surabaya Sabtu (5/9) kemarin (Foto: Dona For Radar Majapahit)
LAKON: Fragmen Lakon berjudul Joko Sambang Pendekar Hunung Gansir yang dibawakan Ludruk Karya Persada d Festival Cak Durasim 2026 di Taman Budaya Surabaya Sabtu (5/9) kemarin (Foto: Dona For Radar Majapahit)

Regenerasi bisa dimulai dari seorang anak yang senang bermain kesenian. Dari rasa senang tumbuh rasa ingin tahu, pengetahuan, dan kecintaan.

Ludruk membutuhkan generasi yang mau membawa masa lalu ke masa depan. Panggung boleh terang dan redup, lakon terus berganti, Tetapi di Jawa Timur ini Ludruk tetap dipercakapkan dan dimainkan dari generasi ke generasi (Sofan Kurniawan)

Editor : Sofan Kurniawan
ludruk budaya surabaya jawa timur seni tradisional