Oleh : Sofan Kurniawan.
Suara gamelan mengiringi dua lelaki yang berdiri berhadapan. Di tangan mereka tergenggam batang rotan. Sesaat kemudian, cambukan pun beradu.
Cetar!
Sekilas, ojung tampak seperti pertarungan adu kekuatan. Namun, di balik kerasnya cambukan, tersimpan nilai sportivitas, keberanian, kebersamaan, dan persaudaraan.
Kesenian tradisional yang masih hidup di sejumlah wilayah Mojokerto selatan, Kecamatan Gondang, Dlanggu, Bangsal dan kawasan selatan lainya, pertunjukan itu biasanya digelar setelah panen atau menjelang musim tanam. Ojung biasa digelar seiring upacara doa memohon turunnya hujan, terutama ketika musim kemarau panjang.
Secara historis, berdasarkan cerita tutur masyarakat, ojung dipercaya telah ada sejak sebelum era Majapahit. Awalnya dikaitkan dengan ritual pemanggil hujan, kemudian berkembang sebagai sarana menguji kanuragan.
Kini, ojung berkembang menjadi seni adu ketangkasan. Permainan dipandu kemlandang atau wasit dan diiringi gamelan. Warga pun berkumpul, bersorak, dan bersuka ria menyaksikan pertunjukan.
Yang menarik, pertarungan berakhir tanpa dendam. Para pemain kembali berjabat tangan sebagai saudara. Ojung bukan tentang siapa yang paling kuat atau siapa yang menang. Ojung adalah tentang keberanian, sportivitas, kebersamaan, dan cara masyarakat merawat persaudaraan. (*fan)
Editor : Sofan Kurniawan