Di tengah generasi yang tumbuh bersama TikTok, Instagram, dan YouTube, mereka juga mempelajari kidungan, jula-juli, tari remo, lawakan hingga lakon drama.
Deril, salah seorang pemain, mengaku tertarik mempelajari ludruk karena kesenian tersebut merupakan bagian dari budaya Jawa Timur yang perlu dilestarikan. “Ludruk itu budaya asli Jawa Timur. Semestinya kita sebagai pemuda-pemudi harus melestarikannya,” ujarnya.
Bagi mereka, latihan bukan sekadar adu peran. Di dalamnya ada proses mengenal karakter, membangun keberanian di atas panggung sekaligus memahami kembali akar kebudayaan sendiri.
Ludruk sendiri tumbuh dari kehidupan rakyat Jawa Timur. Kidungan, jula-juli, lawakan dan lakonnya sejak dahulu dekat dengan persoalan masyarakat. Pada masa pendudukan Jepang, ludruk bahkan menjadi salah satu medium kritik terhadap penguasa. Cak Durasim dikenal sebagai salah satu tokoh yang menggunakan kidungan untuk menyuarakan penderitaan rakyat.
Kini tantangannya berbeda. Panggung ludruk eksis bersama hiburan digital yang hadir dalam hitungan detik. Namun bagi generasi muda di Losari, perubahan zaman bukan alasan untuk meninggalkan tradisi.
Kukun berharap ludruk dapat terus diwariskan, bukan hanya kepada Gen Z, tetapi juga Gen Alpha. Sebab tradisi tidak selalu harus dipertahankan dengan cara lama. Ia bisa berubah mengikuti zaman, selama ruhnya tetap dijaga ludruk tetap ada
Dari pelataran rumah di Losari, suara gamelan itu menjadi tanda bahwa ludruk belum mati. Selama masih ada generasi yang mewarisi. (*fan)
Editor : Sofan Kurniawan