Ludruk di Tangan Gen Z, Tradisi yang Menolak Mati

Sofan Kurniawan • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 17:55 WIB
REMO: Sejumlah anak berlatih tari remo persiapan pentas ludruk di Dusun Losari Desa Sidoharjo Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto, Senin (31/8) FOTO: Sofan Kurniawan/Jawa Pos Radar Mojokerto
REMO: Sejumlah anak berlatih tari remo persiapan pentas ludruk di Dusun Losari Desa Sidoharjo Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto, Senin (31/8) FOTO: Sofan Kurniawan/Jawa Pos Radar Mojokerto
MOJOKERTO-Suara gamelan terdengar sayup dari pelataran sebuah rumah di Dusun Losari, Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, Senin pagi (31/8). Di halaman itu, sekelompok anak muda dan pelajar tengah serius berlatih ludruk.

Di tengah generasi yang tumbuh bersama TikTok, Instagram, dan YouTube, mereka juga mempelajari kidungan, jula-juli, tari remo, lawakan hingga lakon drama.

Deril, salah seorang pemain, mengaku tertarik mempelajari ludruk karena kesenian tersebut merupakan bagian dari budaya Jawa Timur yang perlu dilestarikan. “Ludruk itu budaya asli Jawa Timur. Semestinya kita sebagai pemuda-pemudi harus melestarikannya,” ujarnya.

BERLATIH: Anak membaca partitur gamelan saat berlatih ludruk di Dusun Losari Desa Sidoharjo Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto, Senin (31/8) FOTO: Sofan Kurniawan/Jawa Pos Radar Mojokerto
BERLATIH: Anak membaca partitur gamelan saat berlatih ludruk di Dusun Losari Desa Sidoharjo Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto, Senin (31/8) FOTO: Sofan Kurniawan/Jawa Pos Radar Mojokerto

Latihan tersebut diikuti pelajar mulai tingkat sekolah dasar hingga mahasiswa. Sutradara ludruk, Kukun Triyoga, mengatakan para pemain biasanya berlatih di Sanggar Komunitas Persada. Latihan di Losari kali ini dilakukan untuk mempersiapkan diri mengikuti Festival Cak Durasim di Taman Budaya Jawa Timur, di Surabaya.

Bagi mereka, latihan bukan sekadar adu peran. Di dalamnya ada proses mengenal karakter, membangun keberanian di atas panggung sekaligus memahami kembali akar kebudayaan sendiri.

Ludruk sendiri tumbuh dari kehidupan rakyat Jawa Timur. Kidungan, jula-juli, lawakan dan lakonnya sejak dahulu dekat dengan persoalan masyarakat. Pada masa pendudukan Jepang, ludruk bahkan menjadi salah satu medium kritik terhadap penguasa. Cak Durasim dikenal sebagai salah satu tokoh yang menggunakan kidungan untuk menyuarakan penderitaan rakyat.

BERADU AKTING: Pelajar beradu akting dalam latihan ludruk di Dusun Losari Desa Sidoharjo Gedeg, Senin (31/8). FOTO : Sofan Kurniawan/ Jawa Pos Radar Mojokerto
BERADU AKTING: Pelajar beradu akting dalam latihan ludruk di Dusun Losari Desa Sidoharjo Gedeg, Senin (31/8). FOTO : Sofan Kurniawan/ Jawa Pos Radar Mojokerto

Kini tantangannya berbeda. Panggung ludruk eksis bersama hiburan digital yang hadir dalam hitungan detik. Namun bagi generasi muda di Losari, perubahan zaman bukan alasan untuk meninggalkan tradisi.

Kukun berharap ludruk dapat terus diwariskan, bukan hanya kepada Gen Z, tetapi juga Gen Alpha. Sebab tradisi tidak selalu harus dipertahankan dengan cara lama. Ia bisa berubah mengikuti zaman, selama ruhnya tetap dijaga ludruk tetap ada 

Dari pelataran rumah di Losari, suara gamelan itu menjadi tanda bahwa ludruk belum mati. Selama masih ada generasi yang mewarisi. (*fan)

Editor : Sofan Kurniawan
ludruk budaya jawa timur seni seni tradisional