RADAR MAJAPAHIT – Noken menjadi salah satu warisan budaya Indonesia dari Papua yang memiliki fungsi luas dalam kehidupan masyarakat. Bukan sekadar tas tradisional, Noken juga menjadi simbol identitas, persatuan, serta hubungan masyarakat dengan alam dan tradisi leluhur.
Dilansir dari laman resmi Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI, Noken resmi terinskripsi dalam UNESCO List of Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding pada 4 Desember 2012 dalam sidang UNESCO di Paris, Prancis. Pengakuan tersebut menempatkan Noken sebagai warisan budaya yang perlu mendapat perhatian karena keberlangsungannya menghadapi sejumlah ancaman.
Noken merupakan jaring atau tas anyaman yang dibuat dengan tangan menggunakan serat kayu atau daun. Masyarakat menggunakannya untuk membawa hasil perkebunan, hasil tangkapan laut atau danau, kayu bakar, bayi, hewan kecil, hingga barang belanjaan. Noken juga digunakan untuk menyimpan barang di rumah serta dalam berbagai kegiatan tradisional.
Dalam kehidupan masyarakat Papua, Noken memiliki kedudukan yang sangat dekat dengan aktivitas sehari-hari.
“Ke mana pun mereka pergi, Noken selalu diikutsertakan. Dalam kehidupan rumah tangga, di rumah maupun di luar rumah, Noken selalu dibawa. Begitupun ketika pergi ke kebun, ke laut dan di mana mereka berada, pasti mengenakan Noken,” demikian keterangan Pekei (2013) dalam artikel Kemenbud RI.
Noken juga menjadi bagian dari berbagai tradisi masyarakat. Penggunaannya antara lain dalam lamaran, pernikahan, upacara inisiasi anak, pengangkatan kepala suku, penyimpanan pusaka, penyambutan tamu, hingga pakaian adat.
Dalam tradisi perdamaian, Noken juga memiliki fungsi sebagai pelengkap ikatan antara pihak yang berselisih. Noken dapat digunakan untuk membawa barang yang menjadi bagian dari kesepakatan damai.
Cara pembuatannya dilakukan secara manual dengan proses yang panjang. Serat dari kayu atau tanaman tertentu diolah, dikeringkan, kemudian dipintal menjadi benang atau tali. Bahan tersebut selanjutnya diikat menggunakan tangan hingga membentuk kantong jaring dengan berbagai ukuran dan pola.
Keterampilan membuat Noken diwariskan secara turun-temurun. Namun, keberlangsungannya kini menghadapi tantangan. Jumlah pengrajin dan pengguna disebut semakin berkurang, sementara pewarisan pengetahuan kepada generasi muda juga mengalami penurunan.
Persaingan dengan tas buatan pabrik, kesulitan memperoleh bahan baku tradisional, kurangnya kesadaran, serta pergeseran nilai budaya Noken turut menjadi ancaman terhadap keberlanjutannya.
Secara filosofis, Noken memiliki makna yang lebih luas daripada fungsi sebagai wadah. Noken melambangkan identitas, solidaritas, dan persatuan masyarakat Papua yang terdiri atas beragam suku dan bahasa.
Bagi perempuan Papua, keterampilan membuat Noken juga berkaitan dengan kedewasaan dan kematangan sosial. Tradisi tersebut sekaligus mencerminkan peran perempuan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
Penggunaan bahan alami dalam pembuatan Noken juga memperlihatkan hubungan erat antara manusia dan lingkungan. Tradisi tersebut menjadi bagian dari pewarisan nilai, norma, etika adat, gotong royong, serta rasa saling menghormati.
Pengakuan UNESCO terhadap Noken menjadi bagian penting dalam memperkenalkan budaya Papua ke tingkat nasional dan internasional. Di sisi lain, status tersebut juga menegaskan perlunya menjaga keberlanjutan pengetahuan dan keterampilan yang menjadi bagian dari budaya Noken.
Pelestarian Noken pada akhirnya bukan hanya mempertahankan sebuah bentuk kerajinan tradisional, tetapi juga menjaga identitas, nilai sosial, pengetahuan leluhur, serta keberagaman budaya masyarakat Papua sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. (*/ram)
Editor : Rizal AmrullohSumber : Kemenbud RI