RADAR MAJAPAHIT - Menteri Kebudayaan (Menbud) RI Fadli Zon menghadiri acara Seminar LISAN XIII di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (5/8). Berlangsung pada 4-8 Agustus 2026, kegiatan ini menjadi forum internasional untuk memperkuat pelindungan tradisi lisan sebagai infrastruktur pengetahuan, identitas budaya, dan fondasi peradaban di tengah tantangan globalisasi serta disrupsi teknologi.
Dalam sambutannya, Menbud Fadli Zon mengapresiasi Seminar LISAN XIII yang menjadi media untuk menjaga, mengembangkan, dan mewariskan tradisi lisan sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Bertajuk seminar internasional dan festival tradisi lisan Nusantara, Fadli Zon memaparkan terkait kekayaan jenis tradisi lisan
Mulai dari patra, mantra, doa, syair, nyanyian, silsilah, kisah asal usul, petatah petitih, hingga pertunjukan yang menjadi wahana untuk menata hubungan sosial, membaca alam, hingga mengingat peristiwa dan meneruskan nilai-nilai kehidupan. "Karena itulah tradisi lisan harus kita pahami sebagai salah satu arsip pertama dari peradaban manusia yang menghubungkan antara bahasa, konteks sosial, ingatan, interpretasi, dan penciptaan kembali,” ungkapnya melalui siaran pers Kemenbud RI, Rabu (5/8).
Menbud menilai, tema Seminar LISAN XIII sangat relevan dengan kondisi saat ini yang tengah menghadapi berbagai tantangan multidimensional. Menurutnya, hal tersebut menjadi momentum untuk merefleksikan kembali peran tradisi lisan dalam membantu masyarakat merespons berbagai krisis.
Dikatakannya, tradisi lisan perlu dipandang bukan sekadar warisan budaya, melainkan sebagai infrastruktur peradaban yang menjadi sumber identitas, pengetahuan, dan nilai-nilai kehidupan yang terus dimaknai untuk menjawab tantangan masa kini maupun masa depan.
Fadli Zon menegaskan bahwa tradisi lisan merupakan salah satu dari sepuluh objek pemajuan kebudayaan yang memerlukan upaya safeguarding berkelanjutan agar tetap hidup di tengah masyarakat. “Upaya tersebut memerlukan ruang-ruang perjumpaan yang mempertemukan para maestro, tetua adat, dan generasi muda agar proses transmisi pengetahuan terus berlangsung. Selain itu, penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari perlu terus diperkuat, disertai dukungan kepada para pelaku budaya agar dapat terus mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya,” imbuh Fadli Zon.
Menbud juga menilai bahwa perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (AI), menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi pelestarian tradisi lisan. Teknologi seperti pengenalan suara atau speech recognition, dokumentasi digital, revitalisasi tradisi lisan dalam berbagai bahasa daerah, language modeling, digitalisasi arsip, hingga pengembangan bahan ajar dapat dimanfaatkan untuk memperkuat upaya pelindungan dan pewarisan tradisi lisan.
Menbud Fadli Zon berharap, Seminar LISAN XIII tidak berhenti pada seminar dan publikasi semata, tetapi melahirkan penelitian lanjutan, pengembangan arsip digital, penguatan jejaring komunitas, serta langkah-langkah nyata dalam melindungi tradisi lisan yang membutuhkan urgent safeguarding. "Selama tradisi lisan masih dituturkan, ingatan budaya Indonesia akan tetap hidup. Karena itu, mari kita tempatkan pengetahuan tradisional sebagai bagian dari warisan budaya tradisi dan sumber daya untuk membaca persoalan hari ini sekaligus membangun masa depan yang berkelanjutan,” tutup Fadli Zon.
Senada, Ketua Umum Asosiasi Tradisi Lisan Pudentia MPSS berharap, gelara Seminar LISAN XIII dapat menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dalam pelestarian tradisi lisan. "Seminar ini mengajak kita untuk melihat tradisi lisan sebagai pengetahuan yang terus hidup. Cerita rakyat, mantra, pantun, nyanyian, petuah adat, ritual, seni pertunjukan, dan berbagai ekspresi budaya menyimpan nilai kemanusiaan, etika, ekologis, ingatan kolektif, serta cara masyarakat menjaga keseimbangan kehidupan,” tutur Prudentia.
Untuk diketahui, seminar LISAN XIII merupakan agenda dua tahunan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) sebagai wadah mempertemukan peneliti, akademisi, pegiat, pelaku budaya, serta komunitas seni Indonesia dan luar negeri untuk memperkuat upaya pelestarian tradisi lisan sebagai Warisan Budaya Takbenda. Mengusung tema "Peranan Tradisi Lisan sebagai Warisan Budaya Takbenda dalam Merawat Kemanusiaan, Alam, dan Kehidupan dari Masa Lalu ke Masa Depan”, agenda ini menghadirkan rangkaian pelestarian tradisi lisan mulai dari seminar ilmiah, pertunjukkan seni tradisi, pameran, peluncuran buku, serta peluncuran web khusus berisi metadata tradisi lisan dalam Modern Endangered Archive Program dengan pendukungan sejumlah lembaga pendidikan ternama dunia. (*/ram)
Editor : Rizal AmrullohSumber : Kemenbud RI