Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Sejarah Majapahit, Pangeran Noto Kusumo, Menjabat Patih Kerajaan di Era Raja Hayam Wuruk

Moch. Chariris • Kamis, 4 April 2024 | 04:02 WIB
BERDOA: Makam Pangeran Noto Kusumo yang disakralkan masyarakat di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Laila Ramadani for Radar Majapahit)
BERDOA: Makam Pangeran Noto Kusumo yang disakralkan masyarakat di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Laila Ramadani for Radar Majapahit)

RADARMAJAPAHIT - Kompleks Makam Troloyo merupakan bukti nyata peradaban agama Islam pada zaman Kerajaan Majapahit.

Tidak jauh dari kawasan Makam Troloyo terdapat kompleks pemakaman dari tujuh bangsawan Kerajaan Majapahit atau biasa disebut dengan Makam Tujuh Troloyo.

KERAMAT: Pengunjung melihat kondisi Makam Pangeran Noto Kusumo di area Kubur Pitu Troloyo, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Laila Ramadani for Radar Majapahit)
KERAMAT: Pengunjung melihat kondisi Makam Pangeran Noto Kusumo di area Kubur Pitu Troloyo, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Laila Ramadani for Radar Majapahit)

Pemakaman ini terletak di kompleks pemakaman umum di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, yang berjarak sekitar 200 meter dari kawasan Makam Troloyo.

Ketujuh makam ini merupakan seorang patih, senopati, dan juga abdi dalem dari Kerajaan Majapahit.

Salah satunya ialah Pangeran Noto Kusumo.

Semasa hidupnya ia menjabat seorang patih di Kerajaan Majapahit pada era pemerintahan Raja Hayam Wuruk.

”Pangeran Noto Suryo dan Pangeran Noto Kusumo merupakan patih Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk,” ujar Agus, juru pelihara (jupel), Rabu (3/4).

Pangeran Noto Kusumo diperkirakan meninggal pada tahun 1423 Masehi atau masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk.  

Pangeran Noto Kusumo diketahui putra dari Temenggung Satim Singomoyo dan Raden Ayu Dewi Condro Asmoro (Mbah Mbatu).

Beliau juga merupakan adik dari Pangeran Noto Suryo.

”Pangeraan Noto Kusumo dan Pangeran Noto Suryo merupakan saudara kandung,” jelas Agus.

Pemakaman tersebut memiliki corak batu nisan yang memadukan dua kebudayaan yakni antara kebudayaan Hindu dan Islam.

Makam tersebut berada di bawah bangunan cungkup Majapahitan.

Di bagian tembok bangunan terdapat lambang Surya Majapahit.

Serta terdapat payung khas Majapahitan di setiap makam.

Peziarah yang datang memiliki niat berbagai macam seperti, napak tilas, bersemadi, atau sekedar kirim doa.

Kebanyakan peziarah yang datang berasal dari Mojokerto, Surabaya, Kediri, Jogjakarta, Semarang, hingga Kalimantan.

”Pengunjung yang datang boleh kapan pun, namun harus mengisi buku tamu terlebih dahulu,” tandasnya. (annisa fadilah)

 

Editor : Moch. Chariris
#troloyo #majapahit #Senopati