RADARMAJAPAHIT - Sebagian wisata religi di kawasan Trowulan dipercaya sebagai tempat yang memiliki hubungannya dengan Kerajaan Majapahit.
Salah satunya petilasan walisongo di area kompleks Makam Troloyo, di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Petilasan walisongo merupakan tempat pertemuan sembilan wali sekaligus sesepuh penyebar agama Islam di Jawa.
Petilasan ini dipercaya bukan makam yang sebenarnya.
Petilasan sengaja dibuat seperti makam para wali sebagai simbol untuk menunjukkan bahwa tempat ini merupakan tempat berkumpulnya walisongo di era Majapahit.
”Dahulu banyak yang mengira tempat ini berupa makam,” ujar Joko Sucipto, 60, peziarah asal Surabaya, Rabu (27/3).
Joko Sucipto menjelaskan, walisongo dahulu sering kali berkumpul di area Makam Troloyo. Diketahui, keberadaannya di sini untuk menyebarkan agama Islam.
Dalam catatan sejarah, walisongo merupakan tokoh yang sudah memeluk agama Islam pada masa Kerajaan Majapahit.
Petilasan walisongo ini berada di kawasan Makam Troloyo, tepatnya di sisi utara setelah pintu masuk.
Petilasan ini ditandai dengan pohon beringin yang sudah berumur ratusan tahun.
”Tujuan dibuatnya petilasan untuk mengingat, bahwasanya dahulu tempat ini pernah menjadi persinggahan para wali untuk mengembangkan ajaran Islam,” imbuhnya.
Tidak hanya petilasan, terdapat pula makam yang diyakini nenek moyang walisongo. Yaitu, Syekh Jamaludin Al Akbar atau biasa dikenal syekh Jumadil Kubro.
”Pintu petilasan walisongo ini sudah berkarat dan rusak hingga tidak bisa ditutup lagi,” tandasnya. (laila ramadani)
Editor : Moch. Chariris