Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Penanggalan Era Majapahit, Kalender Saka Jadi Acuan Utama

Y
JELANG NYEPI: Masyarakat Hindu melaksanakan upacara Melasti di situs Petirtaan Jolotundo, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, menjelang Hari Raya Nyepi 1947 Saka pada 23 Maret 2025.
JELANG NYEPI: Masyarakat Hindu melaksanakan upacara Melasti di situs Petirtaan Jolotundo, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, menjelang Hari Raya Nyepi 1947 Saka pada 23 Maret 2025.

TAHUN baru Saka 1948 akan jatuh pada 19 Maret 2026 nanti. Masa pergantian tahun tersebut selalu diperingati sebagai Hari Raya Nyepi yang menjadi momen penting bagi umat Hindu. Pada zaman Kerajaan Majapahit, kalender Saka menjadi sistem penanggalan utama yang dianut masyarakat.


Advertisement

Penerapan kalender Saka sebagai acuan umum dalam kehidupan di era Majapahit sekitar 700 tahun silam tak lepas dari corak agama Hindu-Buddha.

Hal ini terwujud melalui penulisan angka tahun Saka pada prasasti, candi, serta kakawin peninggalan kekaisaran yang diyakini berpusat di Mojokerto tersebut.

’’Kalender Saka di zaman Majapahit diadopsi dari penanggalan India,’’ kata Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI Tommy Raditya Dahana.

Advertisement

Secara umum, tarikh Saka memadukan fase bulan dan matahari atau luni-sonar. Pergerakan bulan dan matahari menjadi dasar penghitungan bulan dan tahun.

 

 

Advertisement

Kalender Saka terdiri dari 12 bulan atau masa, yakni Srawana, Bhadrawada, Asuji, Kartika, Margasira, Posya, Magha, Phalguna, Centra, Wekasha, Jyestha, dan Asadha.

Tahun Saka sampai saat ini masih diterapkan masyarakat Hindu terutama di Pulau Bali dengan penambahan unsur budaya lokal.

Menurut penanggalan Saka, Majapahit akan memasuki usia 733 tahun pada 2026 ini. Dalam berbagai catatan sejarah, kerajaan ini disebut lahir pada tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 Saka atau 10 November 1293 Masehi.

 

Hari kelahiran itu mengacu pada penobatan Raden Wijaya sebagai raja pertama Majapahit.
Tommy mengungkapkan, penggunaan kalender Saka alih-alih penanggalan Jawa yang juga telah eksis berkaitan erat dengan pengaruh India.

Pada masa itu, peradaban India yang telah eksis sejak prasejarah turut memengaruhi budaya Majapahit.

’’Selain agama, unsur budaya India yang masuk ke Nusantara termasuk sistem kalender Saka, sistem sosial, sistem pemerintahan, dan lain-lain,’’ terangnya. (adi/fen)

Advertisement

Artikel Terkait

Ziarah Budaya ke Petilasan Raden Wijaya, Menbud Dorong Situs Sejarah Trowulan Terintegrasi

Ziarah Budaya ke Petilasan Raden Wijaya, Menbud Dorong Situs Sejarah Trowulan Terintegrasi

Menbud RI Fadli Zon melakukan ziarah ke Petilasan Raden Wijaya di kompleks Siti Inggil, Desa Bejijong, Trowulan, Mojokerto.

Mitigasi Bencana Era Majapahit, Rawat Bendungan hingga Konservasi Hutan

Mitigasi Bencana Era Majapahit, Rawat Bendungan hingga Konservasi Hutan

Masyarakat di masa Kerajaan Majapahit tak lepas dari ancaman bencana alam mulai banjir bandang hingga kebakaran hutan.

Peristiwa Erupsi Gunung hingga Banjir di Masa Majapahit Tercatat pada Kitab dan Prasasti 

Peristiwa Erupsi Gunung hingga Banjir di Masa Majapahit Tercatat pada Kitab dan Prasasti 

Berbagai peristiwa bencana alam tercatat pada masa Kerajaan Majapahit. Dari gunung meletus, banjir lahar, gempa bumi, hingga kebakaran hutan

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer