Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tanah Liat Jadi Pipa hingga Batu Bata, Begini Bahan Bangunan pada Era Majapahit

Y

AWET: Pipa berbahan terakota peninggalan Kerajaan Majapahit di Museum Majapahit, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
AWET: Pipa berbahan terakota peninggalan Kerajaan Majapahit di Museum Majapahit, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
 


Advertisement

BAHAN bangunan di era Kerajaan Majapahit kebanyakan berasal dari hasil olahan tanah liat. Material alami tersebut diproduksi menjadi berbagai komponen bangunan seperti pipa dan batu bata yang memiliki daya tahan hingga ratusan tahun.

Jejak konstruksi pada masa kerajaan 700 tahun silam itu terlacak dari sejumlah penemuan benda artefaktual. Di antaranya pipa terakota yang terkait dengan teknologi pengelolaan sumber daya air di ibu kota Majapahit, Wilwatikta.

Komponen bangunan saluran air itu memiliki bahan tanah liat murni yang dikeraskan dengan cara dibakar.

Advertisement

’’Di zaman itu pipa-pipa itu menjadi sambungan antarkolam atau waduk, fungsinya sebagai saluran air yang tertanam di dalam tanah,’’ kata Ketua Perkumpulan Peduli Majapahit Gotrah Wilwatikta Anam Anis.

Berbentuk silinder, pipa yang ditemukan memiliki ukuran diameter sekitar 15 sentimeter (cm) dengan panjang kurang lebih 50 cm.

Museum Majapahit, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, menyimpan 20 pipa terakota hasil ekskavasi arsitek Hindia Belanda Henry Maclaine Pont pada periode 1924-1980.

Advertisement

 

 

Benda cagar budaya itu ditemukan Henry saat menggali Trowulan yang diyakini sebagai bekas ibu kota Majapahit. Selain menyambungkan kolam satu dengan lainnya, pipa-pipa itu juga digunakan petani Majapahit untuk membagi aliran air di sawah.

Fungsi irigasi ini teridentifikasi melalui temuan dua bentuk pipa, yaitu lurus dan menyerupai huruf T dengan ujung melengkung.

’’Selama ini juga sudah banyak temuan saluran air kuno, meskipun terputus-putus, tapi menunjukkan kemajuan dan integrasi instalasi pengelolaan air di zaman itu,’’ tutur Anis.

 

 

Menurutnya, kemahiran perajin Majapahit dalam mengolah tanah liat menjadi bahan bangunan juga terwujud dalam bentuk batu bata.

Sama halnya dengan pipa, pembuatan bata dilakukan dengan membakar tanah liat yang sudah dicetak dengan api bersuhu ribuan derajat Celsius.

Hasilnya, bangunan candi, lantai, serta infrastruktur petirtaan yang masih bertahan sampai sekarang.

 

 

’’Hebatnya semua kontruksi itu bisa bertahan lama, masih banyak yang berdiri setelah ratusan tahun,’’ tutur pengacara senior asal Kota Mojokerto tersebut. (adi/fen)

Advertisement

Artikel Terkait

Pemugaran Situs Tribuana Tunggadewi di Mojokerto Sentuh Pagar Kuno

Pemugaran Situs Tribuana Tunggadewi di Mojokerto Sentuh Pagar Kuno

Upaya pelestarian peninggalan Kerajaan Majapahit terus dilakukan di kompleks Situs Bhre Kahuripan atau Situs Tribuana Tunggadewi.

Menggali Ilmu dari Pesona Candi Bajang Ratu

Menggali Ilmu dari Pesona Candi Bajang Ratu

Pesona Candi atau Gapura Bajang Ratu di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto masih menjadi perhatian kalangan wisatawan.

Kendi Era Majapahit Jadi Perlambang Sumber Kehidupan

Kendi Era Majapahit Jadi Perlambang Sumber Kehidupan

Kendi di era Kerajaan Majapahit lebih dari sekadar wadah air minum, kendi menjadi bagian yang tak terpisah dari nilai spiritualitas

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer