Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Visualisasi Dewa-Dewa Hindu dalam Surya Majapahit: Seni atau Ajaran?

I
Penulis: Imron Arlado❯
Di antara sekian banyak peninggalan visual yang mencerminkan kompleksitas budaya kerajaan ini, Surya Majapahit menjadi simbol yang paling ikonik dan sarat makna. sumber foto pinterest
Di antara sekian banyak peninggalan visual yang mencerminkan kompleksitas budaya kerajaan ini, Surya Majapahit menjadi simbol yang paling ikonik dan sarat makna. sumber foto pinterest

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Kerajaan Majapahit dikenal luas sebagai salah satu puncak peradaban Nusantara, yang tidak hanya menorehkan sejarah politik dan militer, tetapi juga meninggalkan jejak mendalam dalam seni, spiritualitas, dan filsafat.


Advertisement

Di antara sekian banyak peninggalan visual yang mencerminkan kompleksitas budaya kerajaan ini, Surya Majapahit menjadi simbol yang paling ikonik dan sarat makna.

Terbentuk dari konfigurasi sembilan dewa Hindu yang ditempatkan sesuai arah mata angin (Dewata Nawa Sanga), simbol ini tidak hanya berfungsi sebagai ornamen arsitektur di candi-candi dan arca, tetapi juga diyakini mewakili tatanan kosmos, kekuasaan, dan spiritualitas masyarakat Majapahit.

Keberadaan Surya Majapahit mengundang pertanyaan yang lebih mendalam, apakah simbol ini murni hasil seni tinggi dari pengrajin Majapahit yang terinspirasi oleh estetika Hindu? Ataukah merupakan medium penyampaian ajaran luhur tentang keseimbangan semesta, ketuhanan, dan posisi manusia di antara keduanya?

Advertisement

Melalui analisis ikonografi, pendekatan hermeneutika budaya, serta kajian arkeologis terhadap struktur dan lokasi penemuan simbol ini, artikel ini akan menelusuri peran ganda Surya Majapahit sebagai karya seni visual dan representasi ajaran religius yang hidup di tengah masyarakat Nusantara abad ke-13 hingga ke-15.

Visualisasi Dewa-Dewa Hindu dalam Surya Majapahit: Seni atau Ajaran?

Kerajaan Majapahit dikenal sebagai puncak kejayaan peradaban Nusantara, tak hanya dalam bidang politik dan ekspansi wilayah, tetapi juga dalam seni, filsafat, dan spiritualitas.

Advertisement

Di antara sekian banyak simbol yang diwariskan dari masa itu, Surya Majapahit menonjol sebagai simbol visual yang penuh makna dan kaya akan penafsiran.

Simbol ini terdiri dari Dewata Nawa Sanga, yaitu sembilan dewa utama dalam kosmologi Hindu yang ditempatkan sesuai dengan arah mata angin, membentuk lingkaran yang menyerupai mandala. Dengan Dewa Siwa di pusatnya, Surya Majapahit bukan hanya ornamen estetik, tetapi juga interpretasi kosmos yang mendalam.

 

Baca Juga: Jejak Seni dan Budaya Majapahit dalam Seni Rakyat dan Tradisional Jawa Timur

Struktur dan Komposisi Surya Majapahit

Surya Majapahit biasanya digambarkan sebagai cakra matahari dengan 12 sinar atau kelopak, masing-masing ditempati oleh satu dewa Hindu. Di tengah cakra terdapat lambang utama seperti matahari, Sri Surya, atau kadang-kadang dewa lain seperti Wisnu atau Siwa.

Dewa-dewa yang umum divisualisasikan:

  •   Brahma (dewa pencipta)
  •   Wisnu (dewa pelindung)
  •   Siwa (dewa perusak)
  • Indra, Agni, Bayu, dan lain-lain sebagai personifikasi alam
  • Dewi seperti Saraswati, Laksmi, dan Durga

Setiap dewa memiliki atribut khas dan mudra (gestur tangan) yang menandakan peran kosmisnya.

Seni Simbolik atau Representasi Ajaran?

Sebagai karya seni:

  •   Estetika Majapahit: Menggabungkan gaya relief halus, anatomi proporsional, dan ekspresi wajah yang tenang.
  •   Pengaruh lokal dan India: Seni Majapahit merefleksikan akulturasi budaya Hindu dari India dengan nuansa lokal Jawa.
  •   Simbol kekuasaan dan keagungan: Digunakan sebagai hiasan dalam candi, istana, dan prasasti, mencerminkan status serta kedekatan penguasa dengan dunia spiritual.

 

Baca Juga: Bhre Lasem: Tokoh Perempuan yang Memiliki Peran Penting di Majapahit

Sebagai representasi ajaran:

  •   Mandala spiritual: Surya Majapahit mencerminkan konsep mandala, yang digunakan dalam meditasi dan pemahaman kosmos.
  •   Kesatuan dalam keberagaman: Dua belas dewa mengelilingi pusat yang tunggal menunjukkan harmoni dalam perbedaan.
  •   Pendekatan esoterik: Dewa-dewa tidak hanya sebagai entitas, tetapi representasi nilai kreativitas (Brahma), keadilan (Wisnu), transformasi (Siwa).

Interpretasi Modern

Dalam kajian arkeologi dan ikonografi, visualisasi dewa-dewa dalam Surya Majapahit dilihat sebagai:

  •   Jejak sinkretisme agama Hindu Buddha dengan kepercayaan lokal Jawa.
  •   Warisan budaya yang menanamkan ajaran dharma secara visual bagi masyarakat.
  •   Karya agung yang menyatukan logika estetika dan spiritualitas dalam satu simbol.

 

Surya Majapahit bukan hanya karya seni yang indah, tapi juga sarana transmisi ajaran kosmologis yang kompleks. Ia adalah refleksi dari bagaimana masyarakat Majapahit memahami dunia melalui citra para dewa, seni menjadi jembatan menuju pemahaman spiritual.

ANGELINA

 

 

Advertisement

Artikel Terkait

Han Sing Tjiang dan Jejak Orang Tionghoa dalam Sejarah Mojokerto

Han Sing Tjiang dan Jejak Orang Tionghoa dalam Sejarah Mojokerto

sejarah Mojokerto tidak selalu dapat dibaca melalui garis pemisah yang tegas antara penjajah dan terjajah, pribumi dan nonpribumi

Mitigasi Bencana Era Majapahit, Rawat Bendungan hingga Konservasi Hutan

Mitigasi Bencana Era Majapahit, Rawat Bendungan hingga Konservasi Hutan

Masyarakat di masa Kerajaan Majapahit tak lepas dari ancaman bencana alam mulai banjir bandang hingga kebakaran hutan.

Peristiwa Erupsi Gunung hingga Banjir di Masa Majapahit Tercatat pada Kitab dan Prasasti 

Peristiwa Erupsi Gunung hingga Banjir di Masa Majapahit Tercatat pada Kitab dan Prasasti 

Berbagai peristiwa bencana alam tercatat pada masa Kerajaan Majapahit. Dari gunung meletus, banjir lahar, gempa bumi, hingga kebakaran hutan

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer